I Can’t Believe You Again

oleh -0 Dilihat

Aku memikirkan kata-kata Ibu, dan ada benarnya juga apa yang ditanyakan Ibu, kalau Irwan adalah laki-laki yang baik, selepas putus denganku, tidak mungkin langsung dengan gampangnya jadian dengan sahabatku Shasa. Tak sepatah kata pun aku mencoba menjawab pertanyaan Ibu, dan aku berusaha dengan cepat membantunya, dan segera kembali ke kamar. Semakin lama aku didekat Ibu, maka semakin bertubi-tubi ungkapan-ungkapan yang tidak enak untuk didengar.

Setelah selesai membantunya, aku bergegas ke kamar, dan kulemparkan tubuh mungilku ke kasur, sambil memejamkan mata. Pikiran tetap pada pertanyaan Ibu, jika Irwan laki-laki yang baik, seharusnya dia bisa memilih wanita lain sebagai penggantiku.

Getar berulang terdengar, ternyata HP ku bergetar kecil tanda ada pesan masuk melalui whatsApp yang berulang-ulang. Seketika mata terbelalak sambil meraba mencari HP di atas kasur. Tak menyangka, ternyata pesan beruntun itu dari Irwan.
Dalam pesan tersebut, Irwan mencoba menjelaskan hubungannya dengan Shasa dan berusaha meminta maaf padaku. Dalam penjelasannya, selama ini hubungan dengan Shasa hanya sebatas sahabat dekat, sebagai pengganti tempat bercerita setelah putus denganku. Kenapa harus Shasa?, dia juga menjelaskan bahwa tidak ada tempat curhat yang lebih baik, kecuali kepada sahabatku, Shasa pasti lebih tahu mengenai diriku. Aku memang menganggap Shasa seperti adikku sendiri, tapi tidak semua permasalahan hidupku aku ceritakan padanya. Kami hanya bertukar informasi mengenai organisasi, ilmu dan juga hobby.

No More Posts Available.

No more pages to load.