Impian yang Sirna

oleh -3 Dilihat

“Endang, aku mencintaimu, apakah engkau mau jadi istriku?”
Kata itu yang selalu kutunggu selama hampir satu tahun pacaran dengannya.
“Aku juga cinta sama Mas Parjo.”
“Endang, engkau belum jawab pertanyaanku, maukah engkau jadi istriku?”
“Tentu saja aku mau. Aku sangat bahagia kalau jadi istri Mas Parjo.”

Dia mencium keningku dengan lembut dan perlahan mencium bibirku. Mataku terpejam, badanku gemetar bagai kena strum 3 watt, jantungku berdetak dengan kerasnya. Aku bagai terbang ke angkasa, hampir saja aku terjatuh kalau dia tidak memegang badanku. Ciuman pertama menjadi kenangan yang tidak akan hilang tertelan waktu.

Namun hubungan dengannya terputus karena ia terpaksa mengikuti kepindahan orangtuanya yang mengadu nasib di Jakarta. Ia tidak berani melawan kehendak orangtuanya. Ia pun pasrah ketika takdir menentukan dia bukan jodohnya.

Baca Juga  Mojtaba Khamenei Tunjuk Dua Jenderal Baru Pimpin Militer Iran

Namun dalam perjalanan hidupnya ketika ia sudah jadi janda dengan usia yang sudah tidak muda lagi mimpi kebahagiaan tumbuh kembali. Doanya untuk memperoleh teman hidup dikabulkanNya. Bahkan, olehNya ia diberi jodoh mantan kekasihnya.
“Ya Allah, Engkau sungguh Maha Pengasih.”

Tidak seperti biasanya, sebelum menuju ke peraduan, ia ingin melihat malam yang biasanya dibencinya. Kali ini terasa lain. Bulan didampingi bintang-bintang kecil yang jumlahnya tak terhitung memancarkan sinar lembut. Ia merasa mereka memberikan senyuman kepadanya. Juga, ia pun merasa binatang malam bernyanyi untuknya. Suara burung hantu, kodok, jangkrik dan binatang malam lainnya terasa merdu di telinganya.

No More Posts Available.

No more pages to load.