Satu bulan menjelang hari perkawinan, hampir setiap minggu ia berbelanja berbagai keperluan untuk dirinya, untuknya dan juga untuk keperluan keluarga yang akan dibangunnya.
Tiga minggu sebelum acara perkawinan, ia telah mentransfer uang untuk berbagai keperluan perkawinan. Memang sudah menjadi tradisi bagi orang Jawa biaya penyelengara perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh pihak perempuan. Ia menginginkan perkawinannya diselenggarakan di “Balai Pernikahan”, gedung pertemuan terbaik di Wonogiri yang dapat menampung cukup banyak undangan. Ia juga sudah pesan kepadanya untuk menyewa Event Organizer terbaik di Wonogiri.
Hari itu, lima belas hari sebelum acara perkawinan, ia begitu gembiranya. Ia bersama Pardi dan Ginah ke Wonogiri untuk mempersiapkan acara perkawinannya.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali Parjo menelepon dirinya.
“Endang sampai mana?”
“Baru sampai Tegal Mas.”
“Sampai Wonogiri kira-kira sampai jam berapa?”
“Pagi Mas, sekitar jam 07.00 an.”
“Hati-hati di jalan, pagi nanti sekitar jam 09.00 an aku ke rumah Ibu.”
Paginya, dia tepat datang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor. Di tangan kirinya terlihat balutan perban.
“Mas Parjo kenapa tangan kirinya.”
“Sehabis dari Bank mengambil uang kiriman darimu, ditengah jalan Mas Parjo dirampok dua orang. Beruntung saat itu ada yang membantu Mas Parjo. Mereka sempat melukai tangan Mas Parjo, namun mereka tidak sempat mengambil uangnya.”
“Terus perkawinan kita bagaimana?”
“Ya.., tetap berlanjut.”









