Impian yang Sirna

oleh -3 Dilihat

Perkawinan berlangsung sesuai jadwal. Acaranya meriah, tamu yang hadir cukup banyak. Senyum ditebarkan kepada para undangan yang memberi ucapan selamat.
“Selamat Endang, akhirnya engkau dapat nikah juga dengan Mas Parjo.” Kata Tini.
“Terima kasih Tini.”
“Selamat Endang, aku iri kepadamu. Tidak dapat jejakanya dapat dudanya.” Kata Parni.
“Terima kasih Parni.”

Bulan madu seperti yang telah ia rencanakan, napak tilas di Waduk Gajah Mungkur. Berdua berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak menuju pohon mahoni. Mereka berhenti tepat dibawah pohon mahoni, melihat gambar tanda percintaan yang telah diukir di pohon tersebut. Gambarnya masih kelihatan meski semakin samar. Keduanya berpandangan sambil tersenyum. Dia menggemgam kedua tangannya dan menatap matanya.

Baca Juga  Takut Dihabisi Iran, Trump Ngumpet di Truk Katering Bandara saat Kabur dari Turki

“Endang, sebenarnya luka di tangan kiri Mas Parjo tidak seberapa, tapi tendangan perampok yang mengenai selengkangan itu yang menakutkan. Mas Parjo telah divonis oleh dokter tidak dapat melakukan kewajiban sebagai suami.”
Ia kaget mendengar penuturannya. Pantas saja saat malam pengantin dilalui tanpa cumbu rayu darinya. Dia hanya bilang sangat capai.

“Endang kita duduk di sana,” katanya sambil menunjuk bangku kosong yang tidak terlalu jauh. Mereka pun duduk di bangku yang warnanya sudah kusam.
“Endang, apakah perkawinan kita lanjutkan atau kita hentikan saja sampai disini.”
Untuk beberapa saat ia diam.

No More Posts Available.

No more pages to load.