Di Brasil, Operasi Lava Jato (Cuci Mobil), pada 2014, mengungkap jaringan korupsi lintas perusahaan minyak negara (Petrobas), kontraktor, dan elite politik. Operasi tangkap tangan pencucian uang di tempat pencucian mobil memicu krisis politik dan investigasi antikorupsi terbesar di Brasil, membongkar skema suap dan pencucian uang transnasional berskala masif. Skandal ini mengubah lanskap politik dan hukum di Brasil serta menyeret banyak petinggi negara, termasuk mantan presiden, kepolisian, Kejaksaan serta korporasi multinasional.
Di Afrika Selatan, kolusi korup antara Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan keluarga konglomerat Gupta menjadi penentu segala hal. Dari pengangkatan pejabat, penentuan komisaris, kebijakan publik, dan kontrak negara, selalu melibatkan dua peng-peng ini. implosion terjadi ketika skandal mega-korupsi, dikenal sebagai State Capture, terungkap. Skandal ini melibatkan penyalahgunaan kekuasaan secara sistemik, penjarahan dana negara, dan kontrol atas institusi negara demi keuntungan pribadi. Akibat ledakan politik internal ini, Zuma harus mundur dari jabatan presiden, dan keluarga Gupta kabur ke Dubai.
Di Korea Selatan, sejumlah mantan presiden diadili karena relasinya dengan konglomerasi. Pada 2020 dibentuk Kantor Investigasi Pejabat Tinggi (CIO) yang justru memicu perang yurisdiksi dengan Kejaksaan Agung. Di Filipina, koalisi Presiden Marcos Jr dan Wapres Sara Duterte, bubar karena kisruh amandemen konstitusi, isu narkoba, dan korupsi. Di Malaysia, PM Najib Razak dipenjara karena melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan pencucian uang. Dalam mega skandal dana investasi negara 1MDB (Danantara versi Malaysia), Ia menerima aliran dana haram lebih dari Rp11 triliun untuk memperkaya diri dan membiayai kampanye politik.









