“In Prabowo We Trust” dan Nasib Bangsa Kedepan

oleh -485 views
Syahganda Nainggolan

Di sisi lain, rujukan itu dapat juga berupa ajaran, baik agama, ideologi maupun tradisi yang turun temurun. Ajaran-ajaran Jawa, misalnya, Tut Wuri Handayani, Sugi Tanpa Bondo, Tepo Seliro, dll, merupakan ajaran turun temurun alias tradisi, yang tidak merujuk pada sosok.

Dalam ajaran Marxisme, misalnya lagi, tidak dikenal dominasi antara manusia. Mereka mengenal determinisme masyarakat, di mana peran individual hanyalah konsekwensi derivatif dari komunal.

Penempatan sosok Prabowo selevel dengan Tuhan dalam pandangan SBY cukup menarik untuk dikaji. Pertama, klaim SBY bahwa dari perjalannya ke belasan kabupaten, rakyat mencintai Prabowo. Lalu apakah mencintai itu berarti menempatkan Prabowo selevel dengan Tuhan? Kedua, SBY mengingatkan kita agar jangan menyakiti rakyat yang ingin Prabowo memimpin bangsa kita. Apakah dengan demikian Prabowo bisa selevel dengan Tuhan?

Baca Juga  Ketua DPRD Maluku Benhur Watubun Ikut Wisuda di UKIM, Sah Sandang Gelar Sarjana Hukum

Pengkultusan manusia yang dilakukan SBY terhadap Prabowo saat ini akan berpotensi pada 3 hal: pertama, pengkultusan adalah penyakit anti demokrasi. Sebagai bapak demokrasi di era lalu, harusnya SBY tidak memberi kesan pengkultusan individual. SBY harus konsisten bahwa manusia hanyalah makhluk Tuhan saja yang bisa dikritik.

Kedua, SBY berpotensi mengecilkan makna protes rakyat yang mengutuk pemilu curang. Protes sosial atas pemilu curang, saat ini, bukanlah kasus biasa. Perasaan rakyat yang terluka saat ini sudah menganga terlalu besar. Saat ini memang kekecewaan rakyat lebih tertuju pada Jokowi, tapi sebagai kaum demokrat, harusnya SBY membuka ruang dialog bahwa kecurangan itu juga dinikmati oleh Prabowo.

No More Posts Available.

No more pages to load.