Kita tentu tidak bisa berharap pada Jokowi dan rezimnya dalam mengobati luka rakyat. Namun, jika rezim ke depan juga memelihara luka tersebut, maka dapat dipastikan bahwa pergolakan rakyat akan terus berlangsung. Inilah kesalahan terbesar SBY yang tidak membuak ruang refleksi dan dialog.
Seandainya kekuasaan berpindah secara “paksa” dari Jokowi kepada Prabowo ke depan, dengan model kepemimpinan angkuh yang sama, maka rakyat harus mencari jalannya sendiri. Pengorganisasian rakyat dalam tema-tema perubahan harus terus dilanjutkan oleh kalangan masyarakat sipil (civil society), baik kalangan kampus, buruh maupun keagamaan. Penggalangan dan pengorganisasian rakyat inilah satu-satunya jalan untuk mengimbagi kekuatan dan kekuasaan yang menindas ke depan. Harus ditanamkan dalam diri rakyat bahwa rezim ke depan adalah rezim curang, tanpa moral.
Penutup
SBY telah menyematkan semboyan “In Prabowo We Trust”. Merujuk semboyan aslinya, ” In God We Trust”, SBY berusaha mengkultuskan Prabowo dan bahkan sejajar Tuhan.
Rakyat harus terus berjuang mengorganisir dirinya membangun kekuatan alternatif. Sebab, era ke depan situasinya mungkin sama buruknya dengan era Jokowi di mana kekuasaan adalah Tuhan.
Mari kita terus berjuang! (*)











