“Kau pasti Marsh!” kontan saja Marsh kaget. “Sudah sebesar ini kau sekarang. Aku hapal logat bahasa Indonesiamu. Sejak kecil sampai sekarang tak berubah, Marsh.”
Marsh tak mampu berkata-kata. Setelah yakin dengan dugaannya, barulah Marsh memeluk perempuan itu sambil menangis.
“Nenek…” lirih Marsh. “Mana ibu? Aku kangen ibu!”
Mendengar pertanyaan cucunya, giliran si nenek yang kaget.
“Ayahmu tidak bercerita?”
“Cerita soal apa?”
Si nenek makin kaget. Kini bertambah cemas. Mulutnya terasa berat ketika akan memulai sebuah kalimat. Namun, pada dirinya, akhirnya, didapati keyakinan yang menggunung. Ia mengambil ancang-ancang.
“Ibumu bahagia di tempat yang damai.”
“Di mana?” rintih Marsh. Penasaran makin bergejolak mengaduk hatinya.
“Di Selat Bali.”
“Maksudnya?” jantung Marsh berdebur seperti ombak di lautan.
“Ibumu tenggelam di sana dan tidak pernah ditemukan.” Nenek menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Berusaha menggenapkan kekuatan dan keberanian. Sementara Marsh, tubuhnya tiba-tiba lemas.
“Penumpang kapal banyak yang ditemukan, dalam kondisi hidup atau sudah jadi jenazah. Tapi ibumu…dia di antara tujuh penumpang yang tidak ditemukan. Hingga kini,” lanjut nenek.
Mendengar itu, Marsh meraung. Tangisnya makin keras. Tubuh bongsornya ambruk di depan kaki neneknya. Kemudian si nenek berkata dalam hati: “Kini aku tahu alasan mengapa ayahmu belum berani menceritakan kepadamu, Marsh.”











