Jeritan Hati Seorang LC Karaoke di Ambon di Tengah Pandemi Covid-19

oleh -829 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Pandemi Covid-19 membuat Cherry (24), Sherly (26), dan Tania (25) hanya bisa menghabiskan waktu di kamar kosnya di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku. Selama pandemi, ketiganya tak lagi bisa bekerja menjadi ladies companion (LC) karaoke. 

Tiga dara asal Manado Sulawesi Utara itu tidak dapat bekerja lantaran tempat karaoke yang menjadikan ladang pekerjaannya harus tutup. Pemerintah Kota Ambon mengeluarkan kebijakan penutupan tempat karaoke untuk mencegah penularan Covid-19.

Sambil sesekali bercanda dengan temannya, salah satu LC, Sherly mengaku tabungan hasil dari pekerjaannya sudah menipis. Dia harus beralih mencari pekerjaan lain.

“So nyanda ada doi kita ne” (Saya sudah tidak punya uang). Kan karaoke masih ditutup, terpaksa uang tabungan digunakan buat makan,” ujar Sherly, Senin (15/3/2021).

Link Banner

Sherly menjelaskan, menjadi LC merupakan pekerjaan yang cukup menjanjikan untuk mencari uang. Bagaimana tidak, satu jam menemani tamu, Sherly mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu. Biasanya, sehari bekerja, Sherly mampu mendapatkan uang sebesar Rp 400 ribu.

Baca Juga  Pak JK dan Shalat Jumat

“Biasanya torang baku ganti-ganti deng tamang-tamang laeng sesama LC kalo ada tamu yang datang dan ingin nge-room buat nyanyi,” terang Sherly.

Dia mengungkapkan, uang yang didapatkannya harus diberikan ke orangtuanya yang membantu membesarkan buah hatinya yang berusia tiga tahun. Dia berpisah dengan mantan suaminya karena sudah tidak cocok dalam berumah tangga.

“Ta pe laki napa dia jaga bajahat, makanya kita minta cere terus datang ke Ambon pas waktu itu ada tamang yang tawar karna di karaoke,” ucap dia.

Sherly mengaku, selama menjadi LC uang yang dihasilkan cukup untuk kebutuhan hidupnya dan mengirimkan uang untuk keluarganya. Namun, selama Covid-19 dan tempat karaoke ditutup, tidak ada uang yang dia dapat sehingga tidak dapat mengirimkan uang untuk keluarganya.

“Sedih ne’, karaoke tutup, nyanda ada karna kasiang. Sedangkan Ta pemimpin anang dang kwa dia butuh susu. Tapi kita nya mau mengemis pe orang lain,” keluh Sherly.

Baca Juga  Residivis Pembunuh Kiki Kumala Ditangkap Polisi di Tidore

Jual Diri

Tim Satuan Tugas (Satgas) penanganan COVID-19 Kota Ambon saat menindak aktivitas karaoke yang melanggar aturan penerapan PSBB transisi.

Untuk kebutuhan hidup, Sherly terpaksa mengambil jalan pintas dengan menjual diri melalui media sosial. Menurut dia, cara tersebut menjadi pilihan karena pendidikannya hanya tamatan sekolah dasar.

Melalui media sosial, dia kerap menawarkan diri kepada lawan jenis dengan tarif yang tak murah.

“Kalo dorang mau open BO minimal short time Rp 400 ribu wajib pake pengaman, kalo long time Rp 1 juta,” jawab Sherly dengan polos.

Dalam sehari, Sherly hanya mendapatkan dua pelanggan dan terkadang tidak ada yang menggunakan jasanya.

Sherly mengaku, sebenarnya, tidak ingin melakukan pekerjaan hina dengan menjual diri. Bahkan, apabila tempat karaoke telah buka, Sherly akan kembali bekerja kembali menjadi LC.

“Kalau tampa karaoke so buka lei, lebe bae mo jadi LC ulang dari pada open BO. Biar dia pe doi basar maar dia pe resiko juga basar, jadi kita rupa dapa tako,” ucap Shery dalam logat Manado yang kental.

Perempuan berambut pirang swbahu itu memiliki impian besar untuk masa depannya bersama anaknya.

Baca Juga  Unkhair dan Harita Nickel Tanam Lebih Dari 3.000 Bibit Mangrove

Sherly ingin menabung untuk membeli sebidang tanah, membuat toko sembako untuk usahanya. Dia juga ingin membesarkan anak dan menyekolahkannya hingga kuliah.

“Kita nya mau Ta pe ana nanti dia pe nasib sama deng kita, Ta pe ana harus lebe bae dari dia pe mama yang orang lain so pandang hina, kasiang,” tutur Sherly. 

Sherly berharap, Pemerintah Kota Ambon kembali membuka tempat karaoke. Dia meyakini, banyak LC yang memiliki kehidupan pahit dan menjadi tulang punggung keluarga. Apabila tidak kunjung dibuka tempat karaoke akan banyak pekerja LC yang memilih pekerjaan hina untuk kebutuhan hidup.

“Kita yakin, di luar sana banyak ta pe tamang-tamang yang dorang pe nasib sama deng kita, walaupun niat Pemkot baik untuk mencegah Covid-19, tapi kalo talalu doa kasiang torang yang menggantungkan nasib di tampa karaoke,” pungkas Sherly. (valen)