Dia mengungkapkan, uang yang didapatkannya harus diberikan ke orangtuanya yang membantu membesarkan buah hatinya yang berusia tiga tahun. Dia berpisah dengan mantan suaminya karena sudah tidak cocok dalam berumah tangga.
“Ta pe laki napa dia jaga bajahat, makanya kita minta cere terus datang ke Ambon pas waktu itu ada tamang yang tawar karna di karaoke,” ucap dia.
Sherly mengaku, selama menjadi LC uang yang dihasilkan cukup untuk kebutuhan hidupnya dan mengirimkan uang untuk keluarganya. Namun, selama Covid-19 dan tempat karaoke ditutup, tidak ada uang yang dia dapat sehingga tidak dapat mengirimkan uang untuk keluarganya.
“Sedih ne’, karaoke tutup, nyanda ada karna kasiang. Sedangkan Ta pemimpin anang dang kwa dia butuh susu. Tapi kita nya mau mengemis pe orang lain,” keluh Sherly.
Jual Diri

Untuk kebutuhan hidup, Sherly terpaksa mengambil jalan pintas dengan menjual diri melalui media sosial. Menurut dia, cara tersebut menjadi pilihan karena pendidikannya hanya tamatan sekolah dasar.
Melalui media sosial, dia kerap menawarkan diri kepada lawan jenis dengan tarif yang tak murah.
“Kalo dorang mau open BO minimal short time Rp 400 ribu wajib pake pengaman, kalo long time Rp 1 juta,” jawab Sherly dengan polos.









