Dalam sehari, Sherly hanya mendapatkan dua pelanggan dan terkadang tidak ada yang menggunakan jasanya.
Sherly mengaku, sebenarnya, tidak ingin melakukan pekerjaan hina dengan menjual diri. Bahkan, apabila tempat karaoke telah buka, Sherly akan kembali bekerja kembali menjadi LC.
“Kalau tampa karaoke so buka lei, lebe bae mo jadi LC ulang dari pada open BO. Biar dia pe doi basar maar dia pe resiko juga basar, jadi kita rupa dapa tako,” ucap Shery dalam logat Manado yang kental.
Perempuan berambut pirang swbahu itu memiliki impian besar untuk masa depannya bersama anaknya.
Sherly ingin menabung untuk membeli sebidang tanah, membuat toko sembako untuk usahanya. Dia juga ingin membesarkan anak dan menyekolahkannya hingga kuliah.
“Kita nya mau Ta pe ana nanti dia pe nasib sama deng kita, Ta pe ana harus lebe bae dari dia pe mama yang orang lain so pandang hina, kasiang,” tutur Sherly.
Sherly berharap, Pemerintah Kota Ambon kembali membuka tempat karaoke. Dia meyakini, banyak LC yang memiliki kehidupan pahit dan menjadi tulang punggung keluarga. Apabila tidak kunjung dibuka tempat karaoke akan banyak pekerja LC yang memilih pekerjaan hina untuk kebutuhan hidup.
“Kita yakin, di luar sana banyak ta pe tamang-tamang yang dorang pe nasib sama deng kita, walaupun niat Pemkot baik untuk mencegah Covid-19, tapi kalo talalu doa kasiang torang yang menggantungkan nasib di tampa karaoke,” pungkas Sherly. (valen)









