Jerman dikutuk dan Brasil kehilangan fokus

@Porostimur.com | Jakarta : Ratusan orang dengan bermacam kostum dan warna itu bergembira di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, pada Minggu (17/6/2018) malam WIB. Mereka merayakan keberhasilan tim nasional Meksiko yang mengalahkan Jerman 1-0.

Adalah gol dari Hirving Lozano pada menit ke-35 yang membuat ratusan pendukung Meksiko tadi berpesta. Dan suporter Meksiko pantas bergembira, sebab terakhir timnas mereka menang atas Jerman terjadi lebih dari tiga dekade lalu–15 Juni 1985.

Tadi malam, Jerman memang bermain di luar kebiasaan. Mereka memang mendominasi penguasaan bola. Namun, Die Manschaft tidak mengimbanginya dengan dua hal. Pertama adalah kecakapan para bek Jerman untuk menahan serangan balik Meksiko.

Kedua, di bagian depan, para penyerang Jerman juga tak cukup apik memanfaatkan sejumlah peluang. Dua hal itu, khususnya terjadi pada babak pertama. Saat Jerman ingin mengubah keadaan pada babak kedua, segalanya jadi terlambat.

Meksiko telah menurunkan para pemainnya dan berusaha menjaga keunggulan 1-0. “Kami bermain dengan berani ketika dibutuhkan dan juga bertahan dengan sungguh-sungguh,” ucap pelatih Meksiko, Juan Carlos Osorio, seperti dilansir BBC.

Bagi Jerman, kekalahan ini mengakhiri tren positif mereka di partai pembuka Piala Dunia. Sebelumnya, mereka selalu memenangi tujuh laga pembuka Piala Dunia–termasuk 20 gol pada empat edisi terakhir.

Atas hasil di Moskow tadi, pelatih Jerman Joachim Loew mengaku kaget. Ia pun mengakui bahwa timnya bermain buruk, terutama pada babak pertama.

Menurut Loew, timnya memiliki sejumlah kesempatan emas–dari 25 peluang–untuk dikonversi menjadi gol. “Namun itu terlihat seperti kutukan dan bola tidak mau masuk menjadi gol,” kata Loew dalam Irish Mirror.

Loew boleh saja menganggap itu sebagai kutukan. Namun faktanya, kiper Meksiko Guillermo Ochoa bermain baik dalam pertandingan tersebut. Dia mampu menahan sembilan tendangan para pemain Jerman malam itu.

Bersama Hirving, Ochoa menjadi pemain yang dinilai tertinggi oleh ESPN dalam pertandingan tersebut, yakni 7.

“Secara psikologis, tentu saja semua pemain tidak bahagia dan kecewa, tapi kami harus menaruh itu di belakang, Pertandingan selanjutnya akan menentukan bagi kami dan kami harus menang,” ucap Loew yang dinukil dari RT.

Untuk sementara, Jerman kini berada di posisi buncit Grup F Piala Dunia; Meksiko di puncak. Posisi itu bisa saja berubah setelah Swedia dan Korea Selatan melangsungkan pertandingan pada malam ini (Senin 18/6).

Unggulan lain tertahan

Salah satu unggulan kejuaraan, Brasil, juga tak mendapat hasil manis di laga pembuka Piala Dunia 2018. Memang, Tim Samba tidak sampai mengalami nasib kalah seperti Jerman tadi.

Neymar dkk. “hanya” diimbangi Swiss dengan skor 1-1 pada laga Grup E di Rostov Arena, Rostov, Senin (18/6) dini hari WIB.

Brasil membuka gol terlebih dahulu melalui tendangan kaki kanan Philippe Coutinho dari luar kotak penalti pada menit ke-19. Lantas, lima menit pasca-dimulainya babak kedua, gelandang Swiss, Steven Zuber, menyamakan kedudukan via sundulan.

Untuk gol Coutinho tadi, seperti menjadi ciri khas Brasil dalam arena Piala Dunia. Sejak 1966, mereka sudah 37 kali mencetak gol dari luar kotak penalti. Jumlah itu, menurut catatan Opta, 11 kali lebih banyak ketimbang tim lain.

Pada laga dini hari tadi, Brasil sebenarnya cukup mendominasi pertandingan. Mereka berhasil melakukan penguasaan bola hingga 55 persen, demikian pula jumlah tembakan.

Tim asuhan Adenor Leonardo Bacchi (Tite) itu berhasil melepaskan 21 tembakan, tapi hanya lima yang tepat sasaran. Di sini masalahnya. Para pemain Brasil kerap bertumpu pada serangan sayap, entah lewat Willian di sisi kanan atau Marcelo di sisi kiri.

Sedangkan tipe ujung tombak mereka adalah penyerang stylish, Neymar dan Gabriel Jesus. Tinggi masing-masing dari mereka 1,75 meter. Maka, bukan perkara sulit bagi para bek Swiss untuk meredam pola demikian.

Maklum, Swiss memiliki bek dengan ukuran tubuh jauh di atas Neymar atau Jesus. Fabian Schar (1,86 meter) dan Manuel Akanji (1,87 meter). Selain karena pola yang monoton, bek Swiss juga patut diberi kredit karena kedisiplinannya.

Jadi, tak usah heran bila jumlah tembakan yang tepat sasaran Brasil terhitung rendah. “Kami memiliki banyak tembakan off target. Bila pemain lebih fokus, kami dapat membuat kiper (Swiss) bekerja lebih keras,” ucap Tite.

“Harapan saya jelas, kami menginginkan kemenangan. Hasil ini tentu mengecewakan.”

Pada pertandingan lainnya, Serbia memenangi laga melawan Kosta Rika dengan skor akhir 1-0. Gol dari Aleksandar Kolarov pada menit ke-56, membuat negara pecahan Yugoslavia itu untuk sementara memimpin Grup E. (web)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: