Satu keluarga kini berada di tiga simpul berbeda: mantan presiden dengan pengaruh politiknya, Wakil Presiden di dalam pemerintahan, dan ketua partai di luar pemerintahan.
Ini belum tentu salah. Masing-masing memiliki hak politik.
Tetapi demokrasi bukan hanya perkara siapa yang memiliki hak. Ia juga tentang bagaimana kekuasaan tersebar dan bagaimana pengaruh tidak terkonsentrasi terlalu lama pada lingkaran yang sama.
Di sinilah kita mulai perlu bertanya: apakah yang sedang kita saksikan sekadar keluarga yang aktif berpolitik, atau sedang tumbuh sebuah orbit kekuasaan baru?
Jokowi sendiri makin menunjukkan bahwa ia belum benar-benar menjadi figur yang selesai dari percakapan politik.
Kunjungannya ke Lampung dan Nusa Tenggara Timur dibaca dalam konteks persiapan politik menuju 2029. Di Lampung, ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa PSI akan masuk parlemen pada 2029 dan berbicara mengenai penguatan struktur hingga tingkat bawah.
Apakah itu berarti Jokowi sedang menyiapkan dirinya kembali ke gelanggang?
Kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan.
Tetapi dalam politik, gerakan jarang benar-benar tanpa makna. Apalagi ketika yang bergerak adalah mantan presiden dua periode yang memiliki jaringan nasional, keluarga di pusat kekuasaan, dan kedekatan dengan partai yang dipimpin putranya.









