Jusuf Kalla dan Hasrat Sebagian Elemen Kristen Memidanakan Ucapan

oleh -510 views

Di titik ini, langkah pelaporan terhadap Jusuf Kalla terasa bukan hanya berlebihan—tetapi juga berbahaya sebagai preseden.

Bukan karena ia tokoh besar lalu kebal kritik.
Justru sebaliknya: karena kita harus menjaga agar kritik tetap berada di wilayahnya—bukan meloncat menjadi kriminalisasi.

Sebab ada perbedaan yang tegas antara meluruskan kekeliruan dan membungkam pernyataan.

Dan bangsa yang kehilangan kemampuan membedakan keduanya, sedang berjalan menuju krisis yang lebih sunyi—krisis akal sehat.

Kita tentu tidak ingin perbedaan tafsir berubah menjadi percikan yang menyulut ketegangan baru.

Api kecil—jika terus dikipasi oleh emosi—akan membesar. Dan ketika ia membesar, yang terbakar bukan hanya satu pihak, melainkan kepercayaan yang selama ini kita rawat bersama.

Baca Juga  BKAD Halmahera Barat Raih Predikat Terbaik Pengelolaan TKD dari Kemenkeu

Pada akhirnya, ini bukan semata soal Jusuf Kalla. Ini adalah refleksi.

Refleksi tentang bagaimana kita bereaksi terhadap perbedaan.
Refleksi tentang apakah kita masih memberi ruang pada klarifikasi.
Refleksi tentang apakah kita lebih mencintai kebenaran—atau kemarahan.

Kedewasaan publik tidak diukur dari seberapa cepat kita tersinggung, melainkan dari seberapa bijak kita merespons.

Dan mungkin, dalam riuh yang sedang berlangsung ini, yang paling kita butuhkan bukan suara yang lebih keras—melainkan keberanian untuk tetap jernih ketika yang lain memilih bising. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.