Battleground Indonesia ini, sangat luar biasa karena melintasi Kongo-Afrika, New York, Eropa, Sulawesi, Maluku hingga Papua dan Sumatera. Seorang pengajar sejarah pada Leiden University, Henk Niejmeijer, PhD (2011), menyebutkan, hampir seluruh peristiwa di pentas global masa lalu, seluruhnya terkait dengan Indonesia. Dari nyasarnya Colombus di Karibia, Bartholomeuz Diaz di Tanjung Harapan, hingga mendaratnya Alfonzo de Alberquerque di Malaka, adalah menjadi jalan menuju Indonesia.
Jika kesadaran geopolitik kita selaku cendikiawan KAHMI, di tarik ke alam kontemporer. Posisi Indonesia juga tak lepas dari upaya Perang Asimetrik atau Proxy War, yang tengah mengincar Indonesia dewasa ini. Ada dua pertarungan kekuatan besar yang berimplikasi bagi Indonesia.
Kishore Mahbubani, menyebutkan, dunia kita tengah memasuki era berakhirnya dominasi Barat ( The Asian 21st Century, Kishore Mahbubani,2022). Dimana terjadinya apa yang disebut Kishore sebagai The Asian Renaissance, yang sekaligus menandai peralihan peradaban dunia dari Barat ke Timur.
Indonesia, berada pada posisi strategis dalam arus perubahan besar ini. Sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar se ASEAN, dan memiliki sumber daya alam yang luar biasa, posisi ini, jika dikapitalisasikan menjadi soft power geopolitik Indonesia untuk merambah masa depannya. Hal ini, jelas akan menghadirkan sosok baru Indonesia sebagai sebuah kekuatan regional baru dunia. Namun saja, posisi ini, sekaligus mengundang bayang-bayang intervensi, sebagaimana diungkapkan Greg Poulgrain.
Bagi KAHMI, ini adalah tantangan didepan mata, kemampuan diplomasi multilateral Indonesia, dalam momentum ini, menjadi sebuah keniscayaan tak terelakkan. Kontribusi KAHMI sangat diperlukan, sebagaimana perjalanan sejarah HMI sejak awal berdirinya di Jogja. Tentu saja, sebagai himpunan yang berbasis keindonesiaan dan keislaman, maka platform etik adalah basis utamanya.








