Kalabendu

oleh -165 views

Para pejabat dari atas hingga ke bawah sungguh sudah kehilangan empati. Kehilangan bela rasa akan hidup rakyat yang semakin mereka cekik. Mereka semakin bergelimang kemewahan, kemegahan, dan kemuliaan. Mereka bergaul dengan sesama mereka sendiri. Saling mendengar, saling memuji, dan saling menjilat. Hasilnya ditunjukkan dengan sangat gamblang: obral penghargaan untuk lingkaran sendiri. Untuk ajudan dan kroni.

Seperti anda, saya pun lelah melihat semua arogansi dan ketidakpekaan ini. Saya lelah melihat mereka menari-nari dan menyanyi sementara masa depan terlihat tidak ada. Mereka merasa masa depan mereka indah karena mereka punya tentara, polisi, jaksa, dan hakim — yang sebenarnya kita beayai.

Untuk saya ini adalah OrBa yang dimampatkan — compacted New Order. Situasinya persis seperti Suharto menjelang pemilihan umumnya yang terakhir. Masih ingat semua orang berlomba menjilat? Tutut baca puisi bikinannya sendiri dan menangis membayangkan penderitaan rakyat — yang tidak pernah dialaminya?

Baca Juga  Nurjaya Laporkan Dugaan Perjadin Fiktif DPRD Ternate Rp26 Miliar ke KPK

Untuk mereka, rakyat adalah hiburan. Yang bisa membuat mereka berduka namun tanpa empati. Tanpa harus merasakan kepahitan dan kesakitan hidupnya.

Sodara, sejarah pernah punya gambaran untuk jaman seperti ini. Inilah jaman Kalabendu — jaman semuanya edan. Namun sekaligus, jaman seperti ini adalah jaman bergerak. Jaman ketika semua orang bangkit untuk menuntut perbaikan dalam hidup bersama.

No More Posts Available.

No more pages to load.