“Kringgg… Kringgg… Kringgg”
Bel pulang berbunyi nyaring, langkah kakiku terhenti ketika melihat hujan yang turun dari langit. Karena aku tidak membawa payung, aku memilih untuk berteduh di gazebo sembari menunggu hujan reda. Di tengah kesendirianku, aku melihat seseorang menuju ke arahku. Dia berdiri sendirian, hanya terlihat punggungnya membelakangi diriku. Tangannya membuka surat kecil dari sakunya, surat yang aku kenal betul pengirimnya.
“Siapa sih pengirim surat ini?” Ucapnya penuh tanda tanya.
Tiba-tiba, handphone milikku berdering. Membuat sosok didepanku menoleh ke belakang, lalu menyadari keberadaanku. Dia tidak berkata apapun, hanya duduk di depanku sambil menatapku heran. Pipiku mulai terasa panas, jantungku berdetak begitu kencang, rasanya ada kupu-kupu berterbangan di dalam dadaku.
“Belum pulang?” Ucapnya memulai pembicaraan.
“Belum, Aku lupa bawa payung. Kamu sendiri?”
“Sama”, Jawabnya singkat.
Setelah keheningan beberapa saat, dia kemudian bertanya padaku
“Kamu, yang ngirim surat ini?”, Tangannya menunjukkan surat yang tadi dia baca.
Aku menggeleng, “Bukan, Kenapa kamu mikirnya itu aku?”
“Katanya kamu suka aku” Jawabnya dengan santai.
Aku tertegun, bingung harus berkata apa. Aku membeku sebentar, lalu membalas ucapannya.
“Kan cuma katanya, bukan faktanya” Ujarku.











