“Ini merupakan hal yang patut diapresiasi. Panitia tidak hanya memikirkan bagaimana kegiatan ini berlangsung meriah, tetapi juga berinisiatif menghadirkan sesuatu yang kreatif dan bermanfaat. Pemanfaatan bambu bekas untuk booth UMKM dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menunjukkan bahwa dengan bahan sederhana pun masyarakat bisa menciptakan sesuatu yang menarik,” ujarnya.
Yusnita menilai konsep tersebut juga sejalan dengan tema Karnaval Budaya Waimital 2026, yakni “Harmoni Dalam Inovasi, Berkarya Membangun Desa.”
Booth-booth tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan Ekraf untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai produk lokal kepada masyarakat dan pengunjung.
Di sisi lain, penataan booth yang kreatif diharapkan menjadi bagian dari pengalaman pengunjung selama mengikuti rangkaian karnaval.
Kepanitiaan Bergilir Perkuat Gotong Royong
Selain kreativitas dalam penataan booth, Yusnita menilai sistem kepanitiaan yang dilakukan secara bergilir antar-RW menjadi kekuatan tersendiri dalam penyelenggaraan Karnaval Budaya Waimital.
Sistem tersebut memberikan kesempatan kepada setiap RW untuk terlibat langsung dalam merencanakan, mengelola dan mengembangkan kegiatan budaya masyarakat.
“Setiap RW memiliki kesempatan untuk mengambil peran dan menunjukkan kreativitasnya. Ini adalah bentuk gotong royong masyarakat Waimital yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan,” tambahnya.









