Kebenaran Media

oleh -555 views

Namun, ketika abad 21 menjadi era baru bagi dunia media, prinsip jurnalisme tersebut diterpa ancaman besar—diabaikan pengguna media sosial bahkan tak jarang juga para jurnalis. Apalagi, kreatifitas dan produktifitas media konvensional telah terkalahkan oleh intensitas konten media sosial yang berseliweran di jagat digital.

Mirisnya, terkadang media sosial menjadi sumber berita tunggal dalam media massa. Juga masalahnya, framing media massa kerap merugikan masyarakat. Apalagi pemberitaan itu lebih banyak opini, masyarakat tentu saja menjadi korban.

Belum lagi, independensi media massa telah diragukan publik. Terutama media –media besar, dikuasai korporasi dan politisi nasional, yang memiliki hubungan intim dengan pemerintah. Hasil penelitian Ross Tapsell dalam Kuasa Media di Indonesia (2018) menemukan, media-media milik Chairul Tanjung, Hary Tanoe, Erick Thohir, Surya Paloh, Aburizal Bakrie adalah bukti hubungan dekat media dengan kekuasaan.

Baca Juga  Implosion Persaingan dalam Kekuasaan Korup

Jika media dikuasai para orang dekat kekuasaan, kebenaran akan menjadi barang mahal yang dicapai masyarakat. Di sini, peran jurnalisme warga (citizen journalism) penting memiliki tempat untuk mengimbangi peran media massa. Warga tak perlu menjadi jurnalis yang terikat dengan media profesional, tetapi dapat bekerja menggunakan prinsip jurnalisme lalu menyampaikan informasi lewat media sosial maupun website. Terlebih, peran ini memungkinkan dilakoni aktivis organisasi mahasiswa maupun kepemudaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.