Kebenaran Media

oleh -5 Dilihat

Foto, teks, video yang bertengger di media sosial adalah bukti keberadaan manusia. Bahkan sekadar klik apa saja agar tetap update; berpikir tidak lagi penting. Berbeda dengan apa yang ditemukan Descartes di awal modernitas—manusia di zaman sekarang tidak menyangsikan eksistensi digitalnya.

Padahal, masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial itu. Eksistensi manusia tidak ditentukan oleh kesangsiannya, tapi oleh kepastiannya, bahwa dia telah mem-post, membalas chat, mendapat like, atau merekrut sejumlah besar followers.

Bahkan, era digital yang diperankan oleh gawai ini, membikin kebenaran mulai tergerus, dikendalikan oleh media—bukan pihak penyampaian pesan. Menurut Budi Hardiman, kebenaran dalam beberapa pengertian klasik, seperti korespondensi, koherensi, dan konsensus, tertantang di era ini. Tersisah kebenaran performatif, dibuat oleh yang memiliki otoritas atau kompetensi dengan membuat pernyataan.

Baca Juga  Joe Kent Sebut AS Bisa Gunakan Senjata Nuklir terhadap Iran jika Gagal Capai Tujuan Perang

Kebenaran performatif itulah yang berlaku dalam komunikasi digital. Karena dalam komunikasi ini kebenaran bisa lebih diciptakan daripada ditemukan. Serial hoaks yang sebarkan terus-menerus secara masif akan berubah menjadi kebenaran.

No More Posts Available.

No more pages to load.