Kebenaran berciri performatif dibikin lewat tindakan digital, seperti posting, chatting dan uploading. Termasuk kebenaran politik, yang telah menggunakan daya tarik emosional seperti isu ras, agama, etnisitas—untuk mengait dukungan.
Kebenaran yang nyaris terbunuh lewat konten sensasional kini mengorbankan masyarakat. Karena jurnalisme yang menjadi garda terdepan pembawa kebenaran informasi pun hampir kewalahan. Oleh karena itu, jurnalisme saatnya perlu dikendalikan warga, agar keberpihakan ke publik tak “disunat” korporat dan politikus. (*)








