Pastor Renyaan mengaku sedih melihat daerah ini karena orang-orang besar atau para tokoh, berusaha menciptakan situasi kekacauan di daerah ini untuk kepentingan mereka lalu mengorbankan masyarakat, mengorbankan tanah ini yang katanya tanah yang mereka cintai, padahal omong kosong.
“Saya kira kepentingan itu sudah yang membuat kekacauan akhir-akhir ini. Jadi jangan melihat kekacauan dan pertikaian ini berdiri sendiri, tidak. Itu berkaitan erat dengan kepentingan titik terangnya. Dan sebagai wakil uskup saya bicara ini tegas dan saya bersama pemerintah daerah, saya dukung langkah pemrintah. Jangan bicara formalitas terlalu banyak. Di mana-mana pakai kata ain ni ain, pakai kata manut enmehe ni tilur ne vuut enmehe ni nfivun, tapi itu omong kosong semua,” tegas partor.
“Bicara cuma formalitas tetapi hati tidak jalan seperti apa yang dikatakan karena tidak mencintai tanah ini karena kalau mereka mencintai tanah ini kepentingan mereka ya berjalan saja jangan gunakan pertikaian dan kekacauan untuk menjadi sarana bagi kepentingan pribadi mereka satu tetapi juga melibatkan anak-anak kasihan masa depan mereka dan anak- anak negeri ini,” sambungnya.
Pastor Renyaan juga menyesalkan penggunaan para remaja oleh kelompok dan orang-orang tertentu dalam menciptakan pertikaian ini dimana sudah jatuh korban










