Kekerasan, Baik Fisik Maupun Verbal, Tetaplah Kekerasan

oleh -495 views

Ironisnya, beberapa kali saya membaca bahwa mereka melabelkan demo-demo mahasiswa masa kini sebagai “anarkis,” seakan tindakan mereka saat berdemo dahulu adalah gerakan Mahatma Gandhi.

Apa yang kita pelajari dari semua ini? Satu hal. Baik protes dengan atau tanpa kekerasan, ganjarannya adalah kekuasaan dan kekayaan.

Namun jaman juga berubah. Mode atau cara berkuasa juga berubah. Sebagian besar perubahan itu terjadi karena teknologi. Dan lewat teknologi itulah para penguasa membentuk opini, menciptakan preferensi, membuat sesuatu yang menakutkan dan juga membuat sesuatu yang harus dicintai.

Inilah jaman ide dan inspirasi. Para politisi berkuasa dengan mengeksploitasi identitas — menciptakan kemarahan dan kebencian berdasarkan identitas itu. Dalam kemarahan tidak ada imajinasi kecuali kebencian.

Sekaligus, orang juga dipaksa untuk bangga kepada hal-hal yang dangkal (banal). Kalau kamu tidak senang dengan Sirkuit Mandalika maka kamu tidak cinta Indonesia. Apa yang lebih dangkal dari keindonesiaan yang diukur dari Mandalika, IKN, atau panjangnya jalan tol yang tarifnya sekarang naik itu?

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Erupsi, PVMBG Imbau Warga Jauhi Radius 4 Kilometer

Demikianlah. Kita tidak punya pemimpin dengan pemikiran yang mengimajinasikan masyarakat masa depan. Kita bahkan tidak ingat lagi bahwa, misalnya, Republik ini didirikan untuk mewujudkan “keadilan untuk semua.”

No More Posts Available.

No more pages to load.