Kekuasaan Perlu Bertanya, Bukan Cuma Bicara

oleh -3 Dilihat

Oleh: Lukas Luwarso, Kolumnis dan jurnalis senior

Menjadi presiden perlu punya kemampuan sederhana, bisa bertanya. Bukan cuma bicara agar didengar rakyat. Bertanya pada bawahan dan pembantu Benarkah laporanmu? Mana datanya? Dari mana angkanya? Bagaimana menghitungnya? Apa metodenya? Sudahkah dihitung dan dikaji ulang? Presiden adalah orang yang menerima ribuan informasi setiap hari. Karena itu, kredibilitasnya bukan ditentukan oleh kemampuannya mengetahui semua hal. Tapi bisa membedakan informasi yang berguna, masuk akal, faktual, atau info abal-abal.

Berbagai pernyataan (pidato) Presiden Prabowo belakangan menimbulkan polemik serius — selain menjadi bahan lelucon di media sosial. Yang terbaru, soal penghasilan buruh pengupas bawang, mendapat upah tujuh ratus ribu rupiah per kilogram. Info abal-abal ini segera mengundang lelucon, bagaimana mungkin bawang seharga 40.000 rupiah perkilo , ongkos mengupasnya 700.000 perkilo?

Baca Juga  Puluhan Tahun Menanti, Profesor Australia Akhirnya Saksikan Burung Bidadari Halmahera di Habitat Aslinya

Sebelumnya, yang lebih fantastis, presiden menginfokan bisnis menggiling padi, “saya dapat laporan satu penggilingan padi untung tiap panen dua triliun per bulan.” Info delusional yang tidak disertasi data, penggilingan sebesar apa? Berapa ton gabah yang digiling? Juga tak kalah heboh, klaim 3.395 jembatan yang dibangun TNI-Polri, secara simbolik diresmikan bersamaan pada 13 Agustus 2026. Jika dibagi rata-rata selama dua tahun (730 hari), hasilnya hampir 5 jembatan selesai dibangun per hari non stop —termasuk Sabtu, Minggu, hari libur, hari hujan. Data delusional itu tidak disertasi info, apa spesifikasi jembatan? Berapa lama masing-masing pengerjaannya? Berapa biayanya? Bagaimana pengawasan mutunya? Benarkah semua jembatan baru? Atau itu cuma jembatan Lego?

No More Posts Available.

No more pages to load.