Berbagai hal yang menjadi penyebab buruknya pilpres kali ini semuanya merujuk kepada satu hal utama; cawe-cawe dan keberpihakan Presiden kepada paslon tertentu. Keberpihakan dan cawe-cawe Presiden ini telah menimbulkan keresahan, bahkan goncangan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Situasi yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah karena di tengah situasi politik ini dapat menimbulkan ketidak stabilan kehidupan bernegara.
Sesungguhnya itulah yang mulai terjadi saat ini. Berbagai protes terjadi di mana-mana. Dari asosiasi kepala-kepala desa, mahasiswa dan akademisi di universitas-universitàs, kelompok buruh, dan lain-lain. Belum lagi protes-protes yang dilakukan melalui media baik mainstream maupun media sosial. Bahkan begitu banyak rakyat yang sesungguhnya protes tapi hanya mampu mengekspresikan dalam hati alias marah dengan diam.
Runyamnya seluruh perangkat kekuasaan seolah tebal muka dengan semua protes yang terjadi. Ibarat pepatah “biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Semua protes itu menjadi suara-suara yang seolah tidak berdaya. Mungkin juga karena penguasa memang sudah mengalami penyakit “shummun, bukmun, ‘umyun” (tuli, bisu, buta) maka mereka tak akan sadar kembali (fahum laa yarji’uun).









