Ketika Ide Federasi Kembali Mengetuk Pintu Maluku Utara

oleh -173 Dilihat

Rumah sakit yang bekerja.

Jalan yang terbuka.

Pelabuhan yang hidup.

Lapangan kerja yang layak.

Dan yang lebih penting dari semuanya: perasaan bahwa mereka dihargai sebagai pemilik sah republik ini.

Negara yang Inkompeten dan Kegelisahan yang Mencari Nama

Di sinilah kritik terhadap pemerintahan hari ini harus ditempatkan.

Bukan dengan kebencian.

Bukan pula dengan romantisme oposisi.

Tetapi dengan pertanyaan yang dingin dan jernih:

Apakah negara sedang bekerja sebaik yang seharusnya?

Pertanyaan itu penting karena pemerintahan yang tidak mampu menerjemahkan kekuasaan menjadi keadilan akan selalu menghasilkan kegelisahan.

Ketika pelayanan publik tersendat, masyarakat kecewa.

Ketika kebijakan berubah-ubah, masyarakat bingung.

Ketika hukum terasa tajam kepada yang lemah tetapi lunak kepada yang kuat, masyarakat marah.

Baca Juga  Soroti Penilaian terhadap Bahlil Lahadalia, Umar Lessy Minta Survei CELIOS Objektif dan Transparan

Ketika kekayaan daerah mengalir keluar sementara manfaatnya terasa kecil di rumah sendiri, masyarakat bertanya.

Dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban yang meyakinkan, masyarakat akan mencari bahasa baru untuk mengartikulasikan kekecewaannya.

Federalisme adalah salah satu bahasa itu.

Jangan salah memahami.

Ketika orang mulai membicarakan federalisme, tidak selalu berarti mereka ingin meninggalkan Indonesia.

Bisa jadi mereka justru sedang menuntut agar Indonesia menjadi lebih adil terhadap dirinya sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.