Ketika Ide Federasi Kembali Mengetuk Pintu Maluku Utara

oleh -173 Dilihat

Sebab republik tidak akan kuat hanya karena setiap orang mengucapkan NKRI dengan suara keras.

Republik menjadi kuat ketika rakyat di pulau-pulau terjauh merasa bahwa republik itu juga milik mereka.

Persatuan tidak dibangun oleh ketakutan.

Persatuan dibangun oleh keadilan.

Djabir Sjah dan Sejarah yang Tidak Pernah Selesai

Maluku Utara mempunyai ingatan sendiri tentang federalisme.

Ingatan itu bernama Iskandar Muhammad Djabir Sjah.

Sultan Ternate ke-47 itu hidup pada zaman ketika Indonesia belum selesai menjadi Indonesia.

Ia bukan hidup dalam republik yang sudah mapan seperti sekarang.

Ia hidup pada masa ketika bentuk negara masih diperdebatkan, ketika kekuasaan kolonial sedang berusaha kembali, ketika republik sedang mempertahankan kemerdekaannya, dan ketika masa depan kepulauan Indonesia belum memiliki garis yang pasti.

Baca Juga  Houthi Tegaskan Perdamaian Yaman Bergantung pada Pengakuan Arab Saudi atas Kegagalan Perang

Djabir Sjah terlibat dalam Konferensi Malino dan Denpasar 1946 serta menjadi salah satu tokoh yang kemudian terlibat dalam struktur Negara Indonesia Timur. Ia bahkan menjabat Menteri Dalam Negeri NIT pada 1949–1950.

Sejarah memang mencatat bahwa pembentukan NIT tidak dapat dilepaskan dari strategi politik Belanda dan gagasan federal van Mook.

Tetapi sejarah juga mencatat bahwa tokoh-tokoh lokal mempunyai pertimbangan politiknya sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.