Kekhawatiran semacam itu tentu tidak otomatis berarti akuisisi adalah ancaman bagi independensi jurnalistik. Modal besar bahkan bisa memberikan sesuatu yang dibutuhkan media: teknologi, sumber daya, distribusi yang lebih luas, dan kemampuan bertahan dalam industri yang semakin mahal.
Tetapi media memiliki satu modal yang tidak mudah dibeli setelah ia hilang: kepercayaan.
Narasi memperoleh sebagian kekuatannya justru karena publik melihatnya sebagai media yang kritis. Maka, jika akuisisi membawa penguatan bisnis tanpa mengurangi keberanian editorial, itu tentu menjadi kabar baik. Narasi dapat tumbuh lebih besar tanpa kehilangan alasan mengapa ia dipercaya.
Sebaliknya, jika suatu hari kekritisan itu perlahan mengendur, publik tentu akan melihatnya. Bukan melalui satu berita yang hilang, melainkan melalui perubahan nada, pilihan isu, pertanyaan yang tak lagi diajukan, atau keberanian yang sedikit demi sedikit surut.
Sebab media tidak selalu kehilangan independensinya dengan sebuah perintah. Kadang ia kehilangan independensi melalui proses yang lebih sunyi: ketika redaksi mulai memahami sendiri batas-batas yang sebaiknya tidak dilampaui.
Maka, semoga yang diakuisisi dari Narasi hanyalah saham dan perusahaannya—bukan kekritisannya.









