Saya pribadi merasakan kekecewaan ketika melihat Maroko, Senegal, dan Mesir menjalani pertandingan-pertandingan yang kemudian memicu kontroversi di ruang publik. Sebagai pencinta sepak bola, saya tentu menerima kekalahan sebagai bagian dari olahraga. Tetapi yang sulit diterima adalah apabila muncul kesan bahwa tidak semua peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk bertanding di bawah aturan yang diterapkan secara konsisten.
Sesungguhnya, persoalan terbesar FIFA bukan hanya bagaimana menyelenggarakan turnamen yang megah. Tantangan yang jauh lebih penting adalah menjaga legitimasi. Dalam setiap kompetisi internasional, keadilan bukan hanya harus ditegakkan, tetapi juga harus terlihat ditegakkan. Ketika kepercayaan publik mulai memudar, setiap peluit wasit akan diperdebatkan, setiap keputusan VAR akan dicurigai, dan setiap hasil pertandingan akan kehilangan sebagian maknanya.
Sepak bola memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan manusia dari berbagai bangsa, agama, ras, dan budaya. Karena itu, FIFA memikul tanggung jawab moral yang jauh melampaui penyelenggaraan sebuah turnamen. Organisasi ini harus memastikan bahwa setiap tim diperlakukan setara, setiap perangkat pertandingan bekerja secara independen, dan setiap keputusan diambil berdasarkan aturan, bukan oleh tekanan politik ataupun persepsi keberpihakan.











