Ketika Piala Dunia Memantulkan Wajah Ketidakadilan Global

oleh -44 views

Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki, Imam, cendekiawan Muslim Indonesia di New York, dan pecinta sepak bola.

PIALA Dunia selalu menjadi pesta olahraga terbesar di planet ini. Miliaran pasang mata menyaksikan pertandingan yang mempertemukan negara-negara terbaik dalam satu panggung yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, persamaan, dan penghormatan terhadap aturan. Di atas lapangan hijau, yang menentukan hasil pertandingan semestinya hanyalah kualitas permainan, strategi, disiplin, dan sedikit keberuntungan.

Namun, semakin saya mengikuti jalannya Piala Dunia tahun ini, semakin kuat kesan bahwa sepak bola tidak lagi berdiri sepenuhnya sebagai olahraga. Ia telah menjadi ruang tempat politik, keamanan, kepentingan ekonomi, bahkan persepsi diskriminasi ikut bermain.

Saya bukan pengamat sepak bola profesional. Saya hanyalah seorang pecinta sepak bola yang sejak lama menikmati keindahan permainan ini. Karena itu, perhatian saya bukan tertuju pada taktik atau strategi setiap tim, melainkan pada berbagai dinamika di luar lapangan yang justru berpotensi memengaruhi jalannya kompetisi.

Salah satu kritik yang kembali mengemuka adalah mengenai konsistensi FIFA dalam menerapkan prinsip-prinsip yang selama ini dikampanyekannya. Banyak kalangan mempertanyakan mengapa FIFA mengambil sikap tegas terhadap Rusia menyusul invasi ke Ukraina, sementara terhadap Israel, yang terus menjadi sorotan internasional terkait konflik di Palestina, pendekatan yang diambil dinilai berbeda. Terlepas dari alasan hukum maupun politik yang mendasarinya, perbedaan tersebut telah melahirkan persepsi adanya standar ganda yang menggerus kepercayaan sebagian masyarakat dunia terhadap independensi FIFA.

No More Posts Available.

No more pages to load.