Ketika Tanah Sedang Runtuh, Apa Sulitnya Presiden Menunda Kunjungan Luar Negeri

oleh -0 Dilihat

Perempuan dan anak-anak, seperti biasa, memikul trauma paling sunyi.
Mereka kehilangan ruang aman, kehilangan rutinitas, kehilangan rasa kontrol atas hidupnya. Ketika prioritas negara tampak berpindah ke tempat lain, kesunyian itu terasa semakin menusuk.

Pada titik ini, luka psikologis mulai tumbuh dalam bentuk yang paling diam. Rasa tidak dianggap, rasa tidak didahulukan—semuanya menumpuk dalam ingatan para korban. Luka-luka semacam ini tidak sembuh dengan cepat; ia menempel pada cara mereka memandang negara, pada cara mereka belajar percaya kembali. Dan sekali kepercayaan itu retak, butuh waktu panjang untuk merajutnya.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apa sulitnya menunda kunjungan luar negeri ketika tanah sendiri sedang runtuh? Dunia tidak akan salah paham. Banyak negara justru akan menghormati keputusan itu sebagai bukti kematangan moral seorang pemimpin.
Kepemimpinan tidak hanya diuji dalam forum-forum megah, tetapi pada keberanian memilih untuk berada di sisi rakyat ketika langit sedang jatuh. Prioritas moral selalu lebih tinggi dari agenda diplomatik yang bisa digeser.

Baca Juga  Polda Maluku Bongkar Dugaan Penyelewengan 320 Liter Pertalite, Lima Orang Diamankan

Negara yang tumbuh adalah negara yang berani menatap luka sendiri tanpa menyelubunginya. Dan pemimpin yang enggan menatap realitas bangsanya sendiri adalah pemimpin yang sedang menjauh dari amanat yang ia pikul. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.