Ia berdiri di depan gubuk kecil tempat Rasulullah berada, menghunus pedang, dan bersiap menghadapi siapa saja yang berani mendekat. Ali menyaksikan peristiwa itu dan berkata,
“Itulah orang yang paling berani.”
Ali juga mengingat kejadian lain yang menunjukkan keberanian Abu Bakar. Suatu ketika, Rasulullah SAW berjalan di kota Mekah dan dihadang oleh sekelompok orang musyrik. Mereka mengejek dan menghina beliau sambil berkata,
“Apakah engkau menjadikan tuhan-tuhan kami menjadi satu Tuhan?”
Banyak orang menyaksikan kejadian itu, tetapi tidak ada seorang pun yang berani membela Rasulullah. Hanya Abu Bakar yang tampil maju. Ia menghadapi mereka sambil berkata tegas,
“Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah?”
Ia kemudian melawan mereka yang berani mengganggu Nabi, tanpa memedulikan risiko yang akan menimpanya.
Setelah menceritakan dua peristiwa itu, Ali terdiam sejenak. Ia tampak menahan air mata, lalu mengangkat selendangnya dan mengusap wajahnya. Di hadapan jamaah yang terdiam, ia berkata,
“Adakah orang beriman dari kaum Fir’aun yang lebih baik daripada Abu Bakar?”
Tidak seorang pun menjawab. Ali kemudian melanjutkan,
“Sesaat bersama Abu Bakar lebih baik daripada orang beriman dari kaum Fir’aun meskipun mereka sepuluh dunia, karena orang beriman dari kaum Fir’aun menyembunyikan imannya, sedangkan Abu Bakar menampakkannya.”









