Saat ditemui Porostimur.com, Rabu (16/9/2026), Nining menceritakan alasan dirinya memilih berjualan kopi.
“Awalnya beta butuh biaya untuk melunasi semester akhir, dan memang tidak mau menyusahkan orang tua,” ujarnya.
Sempat Insecure, Tapi Memilih Bertahan
Keputusan menjadi penjual kopi ternyata tidak langsung diterima dengan mudah oleh dirinya sendiri.
Nining mengaku sempat merasa malu dan minder ketika harus berhadapan dengan teman-teman sebayanya.
Ia melihat sebagian teman seusianya bisa menikmati kehidupan dengan penampilan yang menurutnya lebih menarik, sementara dirinya harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan.
“Jujur insecure dan pengen nangis. Di usianya mereka menikmati hidup, namun beta harus banting tulang,” kisahnya.
Namun, perjalanan hidup perlahan mengubah cara pandangnya.
Nining mulai memahami bahwa setiap orang memiliki pergumulan dan jalan hidup masing-masing.
“Waktu mendewasakan karena pergumulan hidup semua orang berbeda-beda. Ini mungkin jalannya beta, harus mengejar mimpi lulus kuliah,” sambungnya.
Sudah empat bulan enam hari Nining menjalani aktivitas tersebut.
Ia mulai berjualan sekitar pukul 10.00 WIT dan kemudian berganti shift pada pukul 18.00 WIT.
Setiap hari sekitar 50 gelas kopi dibawa untuk dijual. Jika sedang ramai, seluruh dagangan bisa habis. Jika masih tersisa, penjualan dilanjutkan pada shift malam.










