Sultan Murad IV yang mendengar itu terkejut bukan main. Sebab, hal yang disebutkan sang istri berbeda dengan apa yang dikatakan orang-orang.
“Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”
Sang istri menjawab, “Hampir setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu dibuang ke dalam toilet. Sambil berkata, “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”
Selain itu, pria tersebut juga pergi ke tempat pelacuran untuk memberi mereka uang. Kepada para pelacur yang diberi uang, pria itu berkata,
“Malam ini kalian sudah saya bayar, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”
Selanjutnya, pria itu pulang ke rumah. “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pria-pria Islam,” kenang sang istri tersebut menirukan ucapan mendiang suaminya.
Tetapi, orang-orang sekitar hanya mengetahui bahwa pria tersebut selama ini adalah orang yang gemar membeli dan minum-minuman keras serta mendatangi tempat pelacuran. Tak ada dari mereka yang mengetahui yang sebenarnya.









