Merujuk pada Tafsir Al-Azhar jilid 3 karya Hamka, dikisahkan bahwa Utsman bin Mazh’un sempat memohon izin kepada Rasulullah SAW untuk memisahkan diri dari istrinya. Hal ini ia lakukan demi ambisinya untuk mendedikasikan seluruh hidup dan waktunya hanya untuk menyembah Allah SWT.
أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَذِنْتَ لِي فَطَلَّقْتُ خَوْلَةَ، وَتَرَهَّبْتُ وَاخْتَصَيْتُ وَحَرَّمْتُ اللَّحْمَ، وَلَا أَنَامُ بِلَيْلٍ أَبَدًا، وَلَا أُفْطِرُ بِنَهَارٍ أَبَدً
Artinya: “Utsman berkata (meminta izin) kepada Nabi SAW: “Jika Engkau mengizinkan, Aku akan mentalak Khaulah. Aku akan menjadi rahib (tidak menikah), aku akan mengosongkan diriku, mengharamkan daging, tidak tidur di malam hari (untuk beribadah) dan tidak makan di siang hari (berpuasa) selamanya.”
Bukannya memberikan apresiasi, Nabi Muhammad SAW justru melarang keinginan Utsman. Beliau menegaskan bahwa perilaku semacam itu menyimpang dari sunnahnya dan bukanlah praktik yang dibenarkan dalam ajaran Islam.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ سُنَّتِي النِّكَاحَ وَلَا رَهْبَانِيَّةَ فِي الْإِسْلَامِ إِنَّمَا رَهْبَانِيَّةُ أُمَّتِي الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَخِصَاءُ أُمَّتِي الصَّوْمُ وَلَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ. وَمِنْ سُنَّتِي أَنَامُ وَأَقُومُ وَأُفْطِرُ وَأَصُومُ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي









