Oleh: Moh Ramli, Jurnalis, Penulis buku Teladan dan Nasihat Islami Paus Fransiskus
Seorang psikolog klinis, Lya Fahmi, menceritakan di media sosialnya bahwa dirinya mendapatkan klien yang mengalami stres karena melihat perilaku pejabat Indonesia yang dinilai semakin aneh dan kebijakan-kebijakan politik yang jauh dari harapan publik. Psikolog perempuan itu menyebut, apa yang dialami oleh kliennya tersebut adalah masalah kolektif yang kini tengah dihadapi oleh masyarakat Tanah Air.
Lya Fahmi membeberkan jawaban atas problem yang sedang dihadapi itu. Pertama, penderitaan kolektif seperti kemarahan dan kekecewaan pada pemerintah harus ditangani secara kolektif juga. Tidak bisa dengan pendekatan individual. Kedua, yang paling dibutuhkan oleh para penderita adalah bertemu dan saling mengungkapkan isi hati. Sehingga akan membuat korban merasa tidak sendiri. Ketiga, kegalaun tersebut bukan hal sepele.
Menurutnya, setiap manusia yang hidup di Indonesia punya peran dan tanggung jawab untuk menyelamatkan negara ini. Hemat saya, apa yang terjadi di atas sebenarnya adalah hal yang positif. Ini mengindikasikan bahwa rakyat Indonesia bukan warga negara yang acuh tak acuh terhadap nasib negaranya. Kepedulian rakyat tersebut adalah cerminan bahwa masih ada secerca cahaya harapan untuk masa depan yang lebih baik.










