Trump menggambarkan tekanan tersebut sebagai “tembok baja” dan menyatakan Iran semakin kesulitan secara finansial.
Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan disebut turut menimbulkan tekanan politik di Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Trump sendiri beberapa kali menyampaikan ancaman eskalasi militer terhadap Iran, namun pada kesempatan lain juga menyatakan Teheran telah mengalami pelemahan dan berpotensi menerima kesepakatan damai yang menguntungkan Washington.
Dalam konflik tersebut, Iran disebut tetap mempertahankan kendali pemerintahan meski kehilangan sejumlah pejabat senior.
Teheran juga melakukan serangan balasan terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk dan memberikan tekanan ekonomi terhadap sekutu Washington serta pasar global.
Di tengah perang dan perang narasi antara kedua negara, pernyataan Naqdi menunjukkan bahwa Teheran ingin memperlihatkan bahwa tekanan militer dan ekonomi AS tidak serta-merta membuat Iran menyerah.
Namun, klaim mengenai kemampuan produksi rudal dan drone, kondisi stok persenjataan, maupun tingkat kelemahan militer masing-masing pihak merupakan pernyataan dari pihak yang terlibat dalam konflik dan masih memerlukan verifikasi independen.











