Menurut Asad Baig, Direktur Media Matters for Democracy, banyak media penyiaran, terutama di India, menyebarkan informasi palsu, gambar rekayasa, dan narasi sensasional demi mengejar keterlibatan digital.
“Disinformasi sebagian besar datang dari pihak India,” ujar Baig kepada Arab News, Minggu (25/5/2025).
“Media berubah menjadi alat propaganda, mengutamakan sensasi dan monetisasi daripada integritas informasi,” lanjutnya.
Usama Khilji seorang aktivis hak digital, mengkritik media yang gagal memverifikasi informasi secara independen. Ia menegaskan pentingnya memanfaatkan alat seperti citra satelit dan sumber lapangan untuk mengecek klaim yang dibuat oleh negara.
Di sisi lain, platform X yang telah diblokir pemerintah Pakistan sejak Februari 2024, tiba-tiba dipulihkan pada 7 Mei 2025 saat Pakistan merespons serangan rudal India. Pemulihan akses ini disebut sebagai strategi agar narasi Pakistan tetap terdengar oleh dunia internasional.
Namun, ironi terjadi ketika saat perang sebenarnya berlangsung, X justru dibuka, yang berbanding terbalik dengan alasan pelarangan sebelumnya karena alasan keamanan nasional Pakistan.
Sementara itu, pemerintah India memblokir lebih dari 8.000 akun media sosial termasuk dari jurnalis, influencer, dan media asal Pakistan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa hanya satu narasi yang dibiarkan menguasai ruang publik.










