“Korano” Papua

oleh -78 views
Link Banner

Oleh: Moksen SirfefaPeminat Sejarah dan Peradaban.

DI sebuah tempat antara Weda dan Patani, Nuku mendirikan sebuah markas sementara dan memanggil mereka yang berada di Maba, Seram Timur, dan Kepulauan Papua untuk bergabung dengannya. Ia memerintahkan para utusan untuk mencari bala bantuan kepada pelaut Inggris dan Spanyol di perairan yang mereka temui dengan mempersiapkan empat kora-kora penuh rempah-rempah kepada orang asing siapapun selain VOC dengan imbalan senjata. Para pengikut Nuku juga tak jarang melakukan penjarahan para pengikut VOC sampai di Tabukan, Talaud dan Siau di Sulawesi Utara.⁸

Setelah dari Maba, Nuku melarikan diri ke Seram Timur sekitar 1780-an. Mengetahui Nuku dan pengikutnya di Gamrange.⁹ Belanda menyerang wilayah itu luluh-lantak, para sangaji dan kimelaha ( gimalaha) ditangkap, tapi Nuku dan sebagian pengikutnya telah pergi. Selama 1782-1785, daerah-daerah Seram Timur diserang kompeni Belanda. Gubernur van Pleuren diberitahu bahwa Nuku berada di Rarakit, maka dua kampung dekat Rarakit, yaitu Kelinga dan Kelibat diserang dan diluluhlantakkan. Pangeran Abdul Muthalib, saudara Nuku menyerah dan meminta pengampunan. Pangeran Abdul Muthalib memberitahu Gubernur bahwa Nuku kehilangan banyak persenjataan dan logistik dan telah melarikan diri ke Papua. Tapi ketika Gubernur mengejar ke Salawati,¹⁰ yang ditemukan hanya perahu dengan lebar 4,1 meter dan panjang 16,2 meter yang dirancang untuk Nuku dan istrinya.¹¹

Pada 11 November 1781, Nuku menulis sebuah surat kepada gubernur Belanda di Ambon, Bernardus van Pleuren, ia menyebut dirinya sendiri sebagai Sri Maha Tuan Sultan Amir Muhammad Saifuddin Syah… Raja Papua”.¹² Di dalam surat itu Nuku menyampaikan, ia berkuasa atas pulau-pulau yang berdekatan dari Maluku sampai Papua.¹³ Bersamanya bobato, jogugu (joujau), hukum, fomanyira, dua gimalaha dan 400 orang Tidore. Dalam surat itu ia bersumpah menyerang Belanda hingga titik darah penghabisan dan mengemukakan alasan mengapa ia berontak. Ia saat itu berusia 43 tahun.

Orang-orang Papua pun mengangkat sumpah setia kepada “Korano” ( Kolano) Nuku yang bergelar Jou Barakati. Orang Biak menyebutnya Jou Barakasi, karena sang “Korano” memiliki kekuatan Nanek, sebuah kekuatan istimewa yang dihubungkan dengan Koreri. Koreri dalam mitologi orang Biak adalah tokoh politik yang berjalan ke Barat dan akan kembali membawa kesejahteraan kepada mereka.¹⁴

Gagal menangkap Nuku di Salawati, gubernur Belanda mengejar Nuku ke Saparua, karena terbesit Nuku ada di negeri Honimoa. Disini sebagian orang munafik di Saparua yang bekerjasama dengan Belanda menyatakan sumpah setia kepada Nuku, rupanya adalah suatu jebakan. Nuku berhasil lolos dari jebakan dengan berenang. Tidak disebutkan apakah Nuku menyeberang ke Haruku atau ke Seram.

Baca Juga  Kapolsek Sulabesi Barat Bagi Beras untuk 60 Warga

Nuku di Pasifik

Kemanakah Nuku saat itu sehingga tidak ditemukan oleh pasukan Belanda? Sementara pada tahun 1783, ia masih menyelamatkan Thomas Crotty, pelaut Inggris yang nahas itu. Dari data sejarah tahun 1795 Pangeran Nuku dari Seram mengunjungi Fort Coronation milik Inggris (East India Company/EIC) di Teluk Dorei Manokwari. Atas persahabatannya dengan Inggris, ia berkunjung ke pantai utara Papua sebelum kembali ke Gamrange mempersiapkan pasukan menyerang Tidore. Dalam penyerangan nanti ke Tidore, Nuku memobilisasi pasukan dari Aru, Tanimbar, Kisui, Gorom, Onin (Fakfak), Koiwai (Kaimana), pulau-pulau Papua (Biak dan Raja Ampat).¹⁵

Nuku telah diseberangkan oleh armada Papua dan Belanda mengaku kesulitan mengejar rakyat Papua yang melaju dengan “perahu cepat yang tak dapat dipahami” oleh mereka.¹⁶ Istilah “perahu cepat yang tak dapat dipahami” bisa bermakna, sekali tarikan dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kekuatan supranatural seperti menarik tanjung yang jauh menjadi dekat, melipat jarak antarpulau adalah adalah kekuatan-kekuatan suprantarual nenek moyang Austronesia yang di masa prasejarah hingga mencapai Madagaskar di Afrika.¹⁷ Sebuah kekuatan yang “tak dapat dipahami” oleh Belanda secara saintifik.

Atas kerjasamanya dengan Inggris selama dia berkuasa di Seram, Nuku telah menggunakan jalur bagian selatan Papua menuju Pasifik mengumpulkan kekuatan logistik di daerah-daerah belakang pulau Papua yang sudah menjalin kontak dengan pedagang Cina dan Inggris. Para pelaut Inggris mengambil hasil-hasil laut dari Kepulauan New Ireland, Solomon, Santa Cruz, Fiji dan Tonga kemudian berlayar ke barat melalui Selat Torres (selat yang memisahkan Papua dan Australia) lalu naik lewat Pitts Passage (selat Sagawin), Seram Utara menuju Palau, Mindanao dan Kanton.

Tidak disebutkan tahun tetapi menurut cerita orang Maori, Nuku berlayar disana via Rarotonga (kini ibukota Cook Island) bersama empat perahu pengiring di paruh abad ke-19. Beberapa nama pulau di Pasifik seperti Nukuhifa (Polinesia Perancis), Nukualofa (Tonga) dan Nukufetau (Tuvalu) mungkin saja didatangi oleh Nuku secara fisik dengan kemampuan supranaturalnya. Atau bisa jadi Nuku telah kembali ke Seram Timur tetapi sebagian pasukannya masih melayari kawasan tengah dan bagian timur Pasifik hingga memasuki abad ke-20. Jadi penamaan pulau-pulau di Pasifik dengan nama “Nuku” adalah dapat dilakukan oleh Nuku sendiri atau bisa saja oleh pengikut Nuku (para navigator Polinesia) untuk mengenang Prince mereka yang telah kembali ke barat.¹⁸

Para ahli sejarah pasti ragu dengan penghitungan waktu jelajah Nuku di Pasifik, tetapi kalau sekedar membuang waktu 20 tahun di Seram Timur hanya untuk merebut kembali kekuasaan kesultanan Tidore yang secara de facto ada di bawah pengaruhnya, dan bukan pro-Kamaluddin sebagai Sultan Boneka Belanda adalah terlalu lama membuang waktu. Jadi sepuluh tahun di kawasan Gamrange, Seram Timur dan Salawati dan sepuluh tahun menjelajah Pasifik adalah masuk akal.

Baca Juga  120 Penumpang KM Wahana Permai Dievakuasi Tim QRT UPP Tobelo

Sisi Mistik

Kedudukan Nuku sebagai Jou Barakati ( Lord of Fortune) pasti tak lepas dari agama Islam yang dipeluknya. Kesetiaan pada satu isteri menunjukkan ketawadhuan beliau sebagai seorang pemimpin yang bijaksana. Ahli sejarah banyak yang lalai melihat Nuku sebagai pangeran pemberontak ( The Prince of Rebel) dan sebagai seorang Muslim yang taat memegang aqidahnya. Corak Islam di Maluku Utara adalah sufisme (mistik) sama dengan di Aceh, dimana pengaruh mistisisme Persia amat kental. Mereka yang memiliki kedalaman mistik, apalagi yang mencapai wali quthb, banyak hal aneh yang secara kasat mata ( syar’i) tak dapat dibenarkan.

Pada rorano yang lalu, telah penulis jelaskan kaum khawâsh al-khawâsh (supra-eksklusif) yang berhasil mengelola ruh jusmâní mereka hingga menjacapai taraf kewalian. Mereka menerima penyingkapan tabir ( mukâsyafah) dan penyaksian ( musyâhadah) segala rahasia Tuhan di Alam Mulk. Mereka dianugerahi karâmah, seperti berjalan di atas air, terbang di angkasa, melipat bumi (dapat memendekkan jarak), mendengar dari jarak yang sangat jauh, melihat rahasia tubuh, dan lain sebagainya.

Dengan perspektif ini, keberadaan Nuku di Pasifik bukan sesuatu yang aneh. Sebab jarak dalam makna fisik adalah posisi obyek pada ruang yang berbeda sedangkan jarak secara spiritual adalah posisi obyek pada ruang yang sama. Dalam Tasawuf, fenomena bilokasi dapat terjadi karena adanya tenaga penggerak yang luar biasa seperti yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi S.a.w yang terjadi hanya dalam satu malam.

Tustâri terlihat bersama peziarah di ‘Arafat di luar Mekkah sementara ia meninggalkan rumahnya di Irak di hari yang sama. Abû al-Kharaqâní pergi lima kali sehari dari rumahnya di Iraq ke pegunungan Lebanon untuk mengimami sekelompok manusia. ‘Usman ibn Marzûq Qurasyí dan pelayannya melakukan perjalanan pulang pergi Kairo-Mekkah-Madinah-Yerusalem-Kairo dalam satu malam. Suatu malam, Rumi meninggalkan Konya secara diam-diam untuk bersama seorang Darwis di Ka’bah dan sebelum fajar, ia menunjukkan pasir Mekkah di kakinya sebagai bukti bagi istrinya.

Orang-orang dengan derajat khawâsh al-khawâsh akan menerapkan kemampuan khusus mereka dalam momen yang tepat. Tidak pamer yang dapat mengakibatkan merosotnya tingkat kewalian mereka. Memamerkan kelebihan yang mereka miliki adalah menurunkan derajat mereka ke taraf orang saleh kebanyakan sebagaimana ungkapan hasanat al-abrá sayyi’at al-muqarrabîn (perbuatan baik orang saleh adalah perbuatan buruk orang-orang yang dibawa mendekat, para wali.

Baca Juga  Ramalan Cuaca Ambon hari ini, Rabu 5 Agustus 2020

Hal mana menyebabkan para wali menghapus norma-norma agama yang telah ditetapkan. Ia telah melampaui baik dan buruk, menganggap telah bersatu dengan kehendak ilahi dengan cara rahasia, sehingga orang-orang yang berada pada tingkatan jalan yang lebih rendah – apalagi rakyat kebanyakan – tidak dapat mengerti dan menghargai tindakan-tindakannya. Khidr, dengan tiga tindakan misterius yang dari lahir tampak sebagai tindakan destruktif yang tak dapat diterima oleh Musa adalah bisa dihubungkan dengan “kesukaan Pangeran Nuku terhadap arak” dan membunuh Ngofamanjira asal Makian itu.

Salah satu kelebihan wali sufi adalah mereka berbicara tentang firasa “kardiognosia” (membaca batin) seorang guru. “Hati-hatilah terhadap firasa (kearifan) seorang yang beriman”, dikatakan, “karena ia melihat dengan penerangan Tuhan” ungkap Rûzbihân Baqlî. Seorang syekh sufi dapat melihat ke dalam hati muridnya; ia dapat mengatakan keinginan-keinginan yang dirahasiakan sang murid, harapan-harapan dan ketidaksenangan, ia dapat memahami tanda-tanda kebanggaan rohani atau kemunafikan, tepat pada saat seorang murid sedang berada di dekatnya. Bahkan ada beberapa di antaranya mengatakan ia dapat melihat apakah seseorang itu ditentukan masuk sorga atau neraka.

Penutup

Menyelami perjuangan panjang Nuku yang penuh heroik itu, dapat disimpulkan, bahwa beliau tidak sekedar seorang tokoh politik, tapi mistikus yang keluar dari pertapaannya menentang kedzaliman di alam nyata. Ia menjadi pionir spiritual yang mengilhami para tokoh sezamannya seperti Tuanku Imam Bonjol (1772-1864), Pangeran Diponegoro (1785-1855) dan Pangeran Antasari (1797-1862), mengusir penjajah Belanda dari bumi Nusantara.

Tabea !

Ciputat, 190222


Catatan Kaki :

⁸Andaya, Op.Cit. h. 311.

⁹Sebutan untuk daerah Maba, Weda dan Patani. Ketiganya kini masuk wilayah kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Tengah.

¹⁰Dalam pelarian ke Papua mereka melihat sebuah pulau yang sangat strategis untuk dijadikan pusat pertahanan dengan lantunan shalawat, dimana pulau itu kini bernama Salawati.

¹¹Muridan, Op.Cit., h. 230; Andaya, Op.Cit., h. 314.

¹²Andaya, Op.Cit., h. 315.

¹³Matt K. Matsuda, Pacific Worlds (A History of Seas, Peoples and Cultures), New York : Cambridge University Press, 2012, h. 81.

¹⁴Margaretha Hanita, Cita-cita Koreri (Gerakan Politik Orang Papua), Jakarta : UI Publishing, 2019.

¹⁵ Ibid., h. 316.

¹⁶Andaya, Op.Cit., h. 318.

¹⁷ Ibid., h. 315.

¹⁸Lihat, Peter Bellwood, First Migrants (Ancient Migration in Global Perspective), West Sussex, UK : Wiley Blackwell, 2013; Juga, Peter Bellwood, et.al., (eds), The Austronesians (Historical and Comparative Perspectives), Canberra : ANU E-Press, 2006.

¹⁹Adrian Horridge, “The Austronesian Conquest of the Sea-Upwind” dalam Peter Bellwood, et.al. (eds), The Austronesians.. h. 155.

²⁰Matsuda, Op.Cit., h. 82.

No More Posts Available.

No more pages to load.