“Korano” Papua

oleh -617 views

Para ahli sejarah pasti ragu dengan penghitungan waktu jelajah Nuku di Pasifik, tetapi kalau sekedar membuang waktu 20 tahun di Seram Timur hanya untuk merebut kembali kekuasaan kesultanan Tidore yang secara de facto ada di bawah pengaruhnya, dan bukan pro-Kamaluddin sebagai Sultan Boneka Belanda adalah terlalu lama membuang waktu. Jadi sepuluh tahun di kawasan Gamrange, Seram Timur dan Salawati dan sepuluh tahun menjelajah Pasifik adalah masuk akal.

Sisi Mistik

Kedudukan Nuku sebagai Jou Barakati ( Lord of Fortune) pasti tak lepas dari agama Islam yang dipeluknya. Kesetiaan pada satu isteri menunjukkan ketawadhuan beliau sebagai seorang pemimpin yang bijaksana. Ahli sejarah banyak yang lalai melihat Nuku sebagai pangeran pemberontak ( The Prince of Rebel) dan sebagai seorang Muslim yang taat memegang aqidahnya. Corak Islam di Maluku Utara adalah sufisme (mistik) sama dengan di Aceh, dimana pengaruh mistisisme Persia amat kental. Mereka yang memiliki kedalaman mistik, apalagi yang mencapai wali quthb, banyak hal aneh yang secara kasat mata ( syar’i) tak dapat dibenarkan.

Baca Juga  Cuaca Ekstrem Landa Perairan Maluku, Anos Yeremias Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

Pada rorano yang lalu, telah penulis jelaskan kaum khawâsh al-khawâsh (supra-eksklusif) yang berhasil mengelola ruh jusmâní mereka hingga menjacapai taraf kewalian. Mereka menerima penyingkapan tabir ( mukâsyafah) dan penyaksian ( musyâhadah) segala rahasia Tuhan di Alam Mulk. Mereka dianugerahi karâmah, seperti berjalan di atas air, terbang di angkasa, melipat bumi (dapat memendekkan jarak), mendengar dari jarak yang sangat jauh, melihat rahasia tubuh, dan lain sebagainya.

No More Posts Available.

No more pages to load.