Kota Ambon sendiri sebagai ibukota provinsi, pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan jasa, berimplikasi langsung terhadap kecenderungan buangan/limbah yang meningkat dan bervariasi.
Beberapa masalah terkait dengan pengelolaan sampah antara lain; banyaknya pembuangan sampah ke pekarangan, saluran darinase, dan sungai yang berakibat adanya peningkatan kepadatan sampah domestik di Teluk Ambon.
“Masih belum optimalnya sampah yang terangkut ke TPA, dimana sekitar 270 ton timbulan sampah dihasilkan setiap harinya, baru sekitar 162 ton atau 60% dari total keseluruhan timbulan sampah. Jangkauan pelayanan penanganan sampah juga belum optimal, baru mencapai 77 persen dari luas wilayah Kota Ambon, disebabkan karena keadaan geografis yang sulit dijangkau oleh kendaraan operasional pengangkut sampah,” terangnya.
Di samping itu faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan sampah antara lain jumlah personil dan sarana prasarana masih terbatas, pendapatan dari retribusi rendah sehingga perlu subsidi untuk operasional pengelolaan sampah, masyarakat belum sepenuhnya mendukung pengelolaan sampah, dan masih kurangnya penindakan terhadap pelanggaran peraturan tentang persampahan.
“Tentunya hal – hal tersebut di atas menjadi tantangan bagi Pemkot bersama – sama dengan seluruh komponen masyarakat, untuk dapat meningkatkan penanganan sampah yang lebih baik lagi,” ujarnya.









