Namun sayang Revolusi Mental sudah lenyap dalam kamus politik. Korupsi, kolusi dan nepotisme justru kian menjadi-jadi di semua level pemerintahan. Jiwa reformasi yakni antikorupsi dan nepotisme: telah mati!
Bangsa ini boleh jadi telah bergerak mundur ke belakang. Saya teringat ucapan salah seorang proklamator Mohammad Hatta (12 Agustus 1902-14 Maret 1980) yang dicatat di Colomadu, Solo, Jawa Tengah.
Hatta ditulis demikian, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”
Kejujuran adalah satu kota kata yang hilang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sistem politik dol tinuku (jual beli), kejujuran, etika dan moralitas menjadi bahan bercanda.
“Hari begini kok ngomong etika. Ini zaman edan. Ora edan ora keduman.” Semua ngedan untuk ikut bancakan uang-uang rakyat.
Hatta, salah seorang tokoh bersih dan jujur mungkin akan menangis melihat nasib negeri.
Saya membaca buku berjudul, KPK Berdiri untuk Negeri (2019) yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Dalam buku itu ada penggalan kutipan antara Hatta dan Rahmi Hatta (istri Hatta). Saya pernah menulis esai ini di Kompas, 16 November 2019.
+ ”Ayah, kenapa tidak bilang kalau akan ada pemotongan uang? Uang yang susah payah ditabung jadi tidak cukup lagi untuk beli mesin jahit”.
– ”Yuke, seandainya saya mengatakan padamu, engkau pasti menyampaikan pada ibumu, lalu kalian berdua mungkin akan memberi tahu kawan lainnya. Itu tidak baik…”.









