Kurang Bebas-Aktif

oleh -340 views

Ketika Indonesia melelang kapal yang terkait dengan Iran, lalu menolak kapal perang mereka di tahun berikutnya, maka narasi yang terbentuk bukan lagi soal hukum atau prosedur, melainkan soal keberpihakan.

Dan begitulah, pelan-pelan, meme “bebas-aktif” itu mulai retak seperti layar HP murah yang jatuh sekali tapi langsung spider web. Di atas kertas kita bebas. Di lapangan kita terikat. Di pidato kita aktif. Di realitas kita reaktif.

Padahal Selat Hormuz bukan sekadar jalur air. Ia adalah nadi global. Sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati sana. Ketika jalur ini terganggu, bukan hanya kapal yang berhenti, tapi logika ekonomi global ikut tersendat.

Biaya transportasi naik, distribusi terganggu, harga melonjak. Dan negara seperti Indonesia, yang masih sangat bergantung pada impor energi, otomatis ikut menanggung efek domino.

Lalu muncullah imbauan hemat energi. Sebuah solusi klasik setiap kali sistem besar bermasalah: rakyat diminta bijak. Seolah-olah geopolitik bisa diselesaikan dengan mematikan lampu kamar mandi.

Baca Juga  Unpatti Gelar Seminar Buku “God Is Energy”, Dorong Dialog Sains dan Spiritualitas

Di titik ini, kita seperti menonton drama absurd. Negara dengan prinsip politik luar negeri “bebas-aktif” justru tersandera oleh persepsi bahwa ia tidak cukup bebas, dan tidak cukup aktif di tempat yang tepat.

No More Posts Available.

No more pages to load.