Kematian hendaklah ditafsirkan bukan sebagai lawan dari kehidupan melainkan “semacam koma” untuk kelanjutannya, karena di ujung yang kudus, ada Tuhan yang menunggu untuk bertanya. Apa yang kita lakukan selama ada di dunia. Berapa banyak kita mengingatNya dalam syukur. Berapa kali kita melanggar perintahNya secara sengaja. Jangan-jangan kita tak sekedar melupakan tapi berusaha menggantikan posisi Tuhan dalam keseharian. Karen Amstrong dalam “A History Of God” merisaukan munculnya fenomena Tuhan-selfie. Kita kebanyakan menghadirkan Tuhan sebagai cermin diri yang serba fana.
Tuhan menurut Amstrong diposisikan sebagai “menyukai apa yang kita suka dan membenci yang kita benci”. Tuhan boleh dikata adalah perpanjangan identitas kita, ketakutan, rasa curiga dan juga narsisme kita. Disitulah kita mulai tersesat. “Satu-satunya cara menunjukan rasa hormat kepada Tuhan adalah dengan berbuat baik secara moral tanpa memperdulikan apakah Dia ada”, kata Amstrong.
Amstrong mungkin bermaksud baik dengan ajakan untuk berbuat baik, tetapi kepongahan sebagai homo sapiens yang merasa paling benar menghadang dengan sengit ajakan itu. Kita jadi otoriter melebihi kuasa Tuhan. Kita memuja agama tetapi meninggalkan Tuhan dalam ruang yang tak bisa dijangkau. Makin lepas kontrol saat kemajuan tekhnologi meninggikan ego. Dulu, “truth claim” dan “salvation claim” diperdebatkan saat orang merasa paling benar dan keyakinannya paling bisa menyelamatkan. Dalam sejarah agama-agama di dunia, saling klaim tentang yang benar dan yang menyelamatkan itu sangat sering terjadi antara agama-agama samawi.








