Kita kehilangan esensi berkurban meski jumlah sapi dan kambing yang disembelih masih sama seperti tahun kemarin. Meski mereka yang berhak menerima daging kurban tak berubah banyak daftarnya. Meski sapi dan kambing sama-sama bingung mengapa ada dua hari raya yang juga berarti ada dua hari eksekusi. Kita menjauh dari keheningan untuk merenung. Melepas yang keliru di masa lalu dan mencari kebaikan untuk menguatkan peradaban. Kita terbiasa menyemburkan kata maaf tetapi maaf itu hanya narasi yang sumir. Maaf seperti bunyi yang memantul dan berulang sehingga kehilangan fitrah. Ia tak mengubah perilaku, mungkin karena kita tahu masih ada lebaran di peron berikutnya.
Saya ingat sebuah puisi pendek yang menggetarkan punya Ibrahim Gibra dalam buku antologi puisi “Musim Yang Melupa waktu”.
Hari Raya Kurban
Menyembelih hewan dalam diri
Puisi ini tak biasa. Pendek dan menghentak akal sehat. Ia seperti sejumput imaji yang selintas lewat. Tak sekedar hasil kombinasi kata-kata yang kosong. Secara kognitif, puisi ini menuntun kita untuk memahami realitas. Bukan tiruan. Puisi ini menemui kita sebagai pengingat yang evokatif tentang pengalaman, perenungan dan juga entitas teologis. Ia memulihkan ingatan dari kebisuan. Juga sinisme dan sikap masa bodoh.








