Saya melihat betapa miripnya situasi ini dengan situasi jaman kita masih mengalami otoriterisme Suharto. Hukum dibengkokkan untuk membela kepentingan penguasa. Kalau dikiritik, argumen mereka selalu, kami taat hukum. Kalau mau, ubah saja hukumnya. Jelas yang bisa mengubah hukum itu hanyalah lembaga-lembaga yang dipenuhi oleh para kroni, penjilat, dan yes man terhadap penguasa.
Saya tahu, banyak orang marah dengan situasi ini. Sangat marah. Ini adalah permainan ugal-ugalan. Congkak. Arogan. Angkuh luar biasa.
Besok, jam 10 pagi, kawan-kawan sebangsa akan bergerak. Kalau Anda masih ingin suara Anda didengar, perhatikanlah berita-berita lokal Anda. Kota-kota sedang mengorgansir diri. Kita menentang kesewenang-wenangan ini.
Soalnya bukan Pilkada semata. Soalnya adalah negara hukum yang sedang digerogoti sedemikian rupa berulang-ulang secara telanjang, tidak tahu malu, dan melecehkan suara publik. Ini tidak bisa dibiarkan.
Oleh karena itu, kalau Anda ada waktu, bantulah kawan-kawan yang sedang melakukan hak sipilnya memprotes kesewenang-wenangan ini. Jangan pesimis dengan protes dan demo. Kalau ia hanya kecil dan tidak sanggung meyakinkan orang sinis dan pesimis, maka gerakan apapun tidak akan membawa perubahan. Kami membutuhkan orang kritis dan optimis. Bukan sinis dan pesimis.









