Nando benar-benar terusir oleh perbuatan Norma. Ia sempat tidur beralaskan kardus mie instan di pinggir sungai Piko. Dengan hanya berselimutkan jas hujan lusuh. Kejadian ini kurang lebih dua bulan lalu. Hancur hati Nando mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
“Tentu tidak semua orang jahat. Masih ada pula yang berhati malaikat,” ujar seorang kawan yang mempekerjakannya sebagai pengantar barang. Nando tanpa tedeng aling-aling mengiyakan. Bagaimana pun, ia butuh makan dan pakaian layak.
***
Pagi itu, Nando mengantar pesanan ke sebuah plaza di tengah kota. Jaraknya sekitar 171 kilometer dari Quimica. Ketika memasuki area peristirahatan, Nando mendapati iklan lowongan di badan pohon pinggir jalan. Bilamana memenuhi syarat, akan membawa peserta ke negeri matador sebagai novillero, seorang matador pemula. Kesempatan emas tak akan ia sia-siakan, batinnya. Setelah mengantar barang, Nando mendatangi lokasi dan mengikuti serangkaian tes. Termasuk tes menunggangi kuda dan banteng di ibukota. Tanpa kesulitan berarti Nando lulus pada tes tahap awal.
Tes tahap akhir pun digelar tiga hari ke depan.
Nando meminta si bos kurir agar menugaskannya mengantar sejumlah barang ke luar kota.
“Berhati-hatilah, karena lintasan jalan penuh liku,” ujar si kawan selaku bos menyetujui dengan alasan kasihan. Di sisi lain, Nando justru meringankan pekerjaan. Terlebih, Nando tidak terlalu banyak menuntut gaji.









