Lelaki Tanpa Nama

oleh -28 views
Link Banner

Cerpen Karya: Zakiyatul Arifah

Petang menyapa, sungguh hari ini penuh luka. Ditengah keputusasaan, aku terjebak pada situasi serba salah. Kakiku kebas, mataku panas. Ingin rasanya menangis, tapi kukuatkan hati.

Semesta seakan menciptakan plot twist dalam hidupku. Hal yang tak pernah kusangka kini datang menyapa. Adhara, sahabatku ternyata tengah memadu kasih dengan kekasihku. Mereka saling melempar tawa, bergandengan tangan seolah tak melihat aku dibelakangnya.

Aku menyesal, bukan karena mereka. Tapi, karena aku jauh dari-Nya. Sungguh baik Allah, menegurku sedari dini. Aku bersyukur tapi rasa bersalah tak dapat kutarik ulur.

Link Banner

Aku teringat kejadian waktu itu. Dimana, seorang lelaki dengan baiknya menegurku. Tapi, aku terlanjur membencinya, seakan dia yang paling benar. Padahal, aku yang bersalah. Oh, sungguh aku malu pada diriku sendiri. Hari itu dia berkata,

“Kulihat kamu orang yang paham terhadap agama. Bukankah seharusnya kamu menjauhi larangannya. Bagimu, itu wajar tapi tidak dengan-Nya. Ia melihatmu saling menjabat, lalu tersenyum. Bukankah itu mendekati zina?” Ucapannya memang tulus. Tapi, aku terlanjur membencinya
“Itu urusanku kan bukan urusanmu. Jadi jangan ikut campur,” balasku sedikit ketus
“Jangan berburuk sangka, bukankah sesama muslim harus saling mengingatkan ke jalan kebenaran?, Saya permisi,” tukas lelaki itu kemudian berlalu pergi.

Baca Juga  Lantamal IX Ambon Gelar Apel Kesiapan Satgas Penanggulangan Bencana Alam La Nina

Hari ini, aku sadar. Rupanya, teguran halus itu tak kuhiraukan. Biarlah mereka memadu kasih semesra mungkin. Aku tengah kecewa, pada diriku sendiri. Seharusnya, aku paham tingkah Adhara. Dia, memandang Tama dengan tatapan mendalam. Memang benar, cinta membutakan segalanya.

Adhara, yang kuanggap sahabat, selalu mengerti diriku, ternyata perlahan menghunuskan pedang tajam di hatiku. Aku mungkin mengikhlaskan tapi luka itu tetap ada kan?

Aku didalam fase tak mempercayai siapapun kecuali kepada Allah Swt. Tempatku mengadu, meminta, semua kutumpahkan padanya.

Malam semakin pekat. Sayup-sayup suara azan terdengar, kutepikan motor di pelataran masjid. Aku ingin meminta maaf pada-Nya. Berserah diri setelah itu bergegas pulang.

Baca Juga  Tingkatkan layanan, PUPR Kota Ambon siap rilis ”TAGOR”

Suasana di dalam masjid sepi, hanya ada beberapa orang shalat di masjid seluas ini. Setelah selesai, aku masih duduk dengan mukena dan sajadah. Tak lama, terdengar suara merdu lantunan ayat suci al-qur’an. Hatiku bergetar, entah perasaan apa ini. Dititik pertama aku kagum padanya. Dengan seksama aku mendengarnya sampai suara itu terhenti. Kulihat arloji, jam menunjukkan pukul 20.30, segera aku berkemas.

Di teras, aku melihat lelaki tempo hari. Setelah kupahami ternyata itu suaranya. Kita saling berpandangan sepersekian detik, dia memalingkan wajah sembar mengucapkan,
“Maaf,” ucapnya menunduk
“Kamu, yang tempo hari lalu kan? Aku ingat siapa dirimu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih yang terdalam atas teguranmu. Sungguh, aku menyesal waktu itu. Allah memberikan keadaan dimana aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kekasihku, dia tengah memadu kasih dengan sahabatku.” Ucapku sumringah
“Iya, syukurlah kamu tau,” jawabnya singkat.

Baca Juga  Jelang HUT TNI-75, Pangdam Rencanakan Memperindah dan Membangun Maluku

“Seseorang yang kamu percaya, belum tentu dia dapat menjaga kepercayaan itu. Jadi, jangan terlalu menaruh harapan terhadap orang lain. Aku mengenal sahabatmu, Adhara. Dulu, dia begitu ramah, senyumnya ku tau tulus. Tapi, dia menyimpan banyak hal, hingga menjadikannya dendam terhadap dunia. Biarlah dia dan segala urusannya. Tapi, jangan kamu tinggalkan dia. Dia bukanlah orang dengan segala kebebasannya. Dia, hanya butuh bimbingan pada orang yang tepat. Sesekali tegurlah,” sambungnya sebagai penutup.

Dia, belum juga beranjak. Setelah itu, aku bergegas akan menancap gas. Dia, menyeberang ke arah jalan. Tapi, truk melintas sangat cepat dari arah kanan tanpa bisa diprediksi. Dan, dia terpental. Aku mengampirinya, sebuah senyuman hadir di bibirnya sembari berusaha mengucapkan kalimat Allah Swt. Dan kemudian, dia tergeletak tak sadarkan diri. Terimakasih, untukmu lelaki yang belum kuketahui namanya. (*)