Hari ini, aku sadar. Rupanya, teguran halus itu tak kuhiraukan. Biarlah mereka memadu kasih semesra mungkin. Aku tengah kecewa, pada diriku sendiri. Seharusnya, aku paham tingkah Adhara. Dia, memandang Tama dengan tatapan mendalam. Memang benar, cinta membutakan segalanya.
Adhara, yang kuanggap sahabat, selalu mengerti diriku, ternyata perlahan menghunuskan pedang tajam di hatiku. Aku mungkin mengikhlaskan tapi luka itu tetap ada kan?
Aku didalam fase tak mempercayai siapapun kecuali kepada Allah Swt. Tempatku mengadu, meminta, semua kutumpahkan padanya.
Malam semakin pekat. Sayup-sayup suara azan terdengar, kutepikan motor di pelataran masjid. Aku ingin meminta maaf pada-Nya. Berserah diri setelah itu bergegas pulang.
Suasana di dalam masjid sepi, hanya ada beberapa orang shalat di masjid seluas ini. Setelah selesai, aku masih duduk dengan mukena dan sajadah. Tak lama, terdengar suara merdu lantunan ayat suci al-qur’an. Hatiku bergetar, entah perasaan apa ini. Dititik pertama aku kagum padanya. Dengan seksama aku mendengarnya sampai suara itu terhenti. Kulihat arloji, jam menunjukkan pukul 20.30, segera aku berkemas.
Di teras, aku melihat lelaki tempo hari. Setelah kupahami ternyata itu suaranya. Kita saling berpandangan sepersekian detik, dia memalingkan wajah sembar mengucapkan,
“Maaf,” ucapnya menunduk
“Kamu, yang tempo hari lalu kan? Aku ingat siapa dirimu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih yang terdalam atas teguranmu. Sungguh, aku menyesal waktu itu. Allah memberikan keadaan dimana aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kekasihku, dia tengah memadu kasih dengan sahabatku.” Ucapku sumringah
“Iya, syukurlah kamu tau,” jawabnya singkat.




