Liciknya Netanyahu

oleh -10 Dilihat

Lebih menyebalkan lagi bagi Netanyahu, Trump mulai bicara fase kedua perdamaian, setelah fase pertama tukar-menukar tahanan selesai: penarikan pasukan Israel dan rekonstruksi. Bagi Netanyahu, itu alarm bahaya.

Maka lahirlah dari oatknya kelicikan tingkat tinggi bernama “syarat di dalam syarat”. Perlintasan Rafah jadi contoh klasik. Trump mengutus Jared Kushner dan Steve Witkoff, berharap pintu kemanusiaan dibuka.

Namun Netanyahu menolak kecuali satu prasyarat dipenuhi, yaitu penyerahan tahanan terakhir janazah warga Israel. Begitu jazanah ketemu, dan prasyarat itu beres dalam 24 jam, dunia menunggu: apakah truk bantuan masuk?

Ternyata tidak. Netanyahu tak sepenuhnya membuka perlintasan Rafah. Yang dibuka hanyalah jalur pejalan kaki, terbatas pula. Truk bantuan tak boleh masuk. Ini bukan diplomasi; ini seni menghina logika internasional sambil tetap memakai jas resmi.

Sementara ruang-ruang rapat ber-AC sibuk berdiskusi, sekitar enam puluh persen Gaza telah diratakan. Parit-parit digali bukan untuk bertahan, melainkan memastikan warga tak kembali. Strategi scorched earth dibungkus retorika keamanan.

Baca Juga  Satu Abad GPM Gatik, Wali Kota Ambon Ajak Galala-Hative Kecil Hidupkan Kembali Panas Pela

Netanyahu tahu satu hal yang sering luput dari politisi sipil: kelelahan adalah senjata. Dunia bisa bosan, media bisa pindah isu, dan simpati bisa menguap. Maka siapa pun yang mencoba membantu Palestina akan berhadapan dengan tembok syarat, veto, dan alasan keamanan yang elastis seperti karet gelang.

No More Posts Available.

No more pages to load.